Bill sekarang beda


Baru saja saya menguras habis isi dompet saya (benar-benar habis, tersisa 2 ribu saja) untuk perawatan sesuatu yang memiliki tempat istimewa dalam hidup saya, teman saya sejak 2003. Siapa lagi? Bill, si mobil jagoan.

Kalau dipikir-pikir kebersamaan kami yang hampir 10 tahun itu benar-benar indah. Di hari pertama saya membawa Bill, dia ditabrak oleh angkot saat saya membelok di Setiabudi. Berikutnya Bill mengalami shock demi shock karena memiliki majikan seperti saya (baik, saya mulai terdengar seperti anak alay yang menamai barang-barangnya).

Bill bersama saya saat saya mengunjungi anak-anak didik saya, dari Cijambe, Cibiru sampai Dayeuh Kolot. Bill mengangkut anak-anak didik saya di Cikutra. Bill jadi gudang sementara saat saya pindah kantor.

Di suatu periode, Bill pernah menghabiskan uang banyak sekali karena ngadat tiap 5 bulan. Mulai dari karburator, hingga kuras tangki bensin dilakukan, tapi 5 bulan sekali saya harus membawanya ke bengkel langganan papa saya (di mana menurut papa saya, pemilik merangkap ahlinya adalah lulusan luar negeri di bidang permesinan), dan uang yang dihabiskan tidak sedikit, 500 hingga 600 ribu rupiah perkunjungan.

Karena kasih sayang yang luar biasa dan tidak tega pada Bill, saya memutuskan mencari bengkel sendiri. Bengkel Bill yang baru tidak dikelola oleh lulusan luar negeri, melainkan oleh seorang Bapak baik hati bernama pak Dikin. Pak Dikin menganalisa masalahnya dan menemukan penyebabnya. Dengan 135 ribu rupiah saja Bill sembuh dan tidak ngadat-ngadat lagi (silahkan ambil pelajaran sendiri dari hal ini).

Saat ini, saya kehilangan jejak Pak Dikin karena pemilik bengkel yang dikelola Pak Dikin meninggal dunia oleh kanker ganas.

Di satu periode juga Bill pernah mengalami kebocoran tangki bensin. Mobil saya itu meneteskan bensin ke mana pun saya pergi, benar-benar membahayakan. Untuk itu beberapa kali saya berbaring di kolong Bill untuk pertolongan pertama dengan sabun sebagai penyumbat.

Bill hingga saat ini tidak rewel, tapi harus sedikit sabar karena dimiliki wanita. Yah, seringkali pemilik wanita lupa tune up dan service mobil atau sekedar isi karburator dan ganti oli.

Senin besok, saya harus mengunjungi klien di Cikarang. Seperti biasa, saya akan membawa Bill karena sulitnya mendapat travel ke Lippo Cikarang. Saya belajar dari papa saya (kami sering bepergian ke luar kota saat kecil) untuk selalu memeriksa kendaraan sebelum bepergian, dan memastikannya dalam kondisi layak. Jadi pagi tadi saya bawa Bill ke bengkel. Pesan saya adalah: ganti oli, perbaiki wiper, service radiator dan tune up.

Saat saya datang siang harinya, rupanya montir kelupaan hal paling penting yang saya minta, yaitu ganti oli. Tapi ganti oli tidak memakan waktu lama. Saya memesan Top 1, yang biasa dipakai, dan menunggu. Ternyata mereka kehabisan Top 1. Penjaga counter bengong menunggu pilihan saya. Karena oli yang saya tahu hanya top 1 dan castrol, saya pun lalu berkata, “ya udah, castrol saja”.

Saat ganti oli selesai, alangkah terkejutnya saya melihat bon yang diberikan

image

Biasanya, saya tak pernah menghabiskan lebih dari 150 ribu untuk Top 1, kali ini, Rp.270 rb untuk oli. Di dompet saya hanya ada 434 ribu saja, dan di tempat itu tidak bisa pakai kartu kredit, maupun debit.

Percakapan saya dengan penjaga counter kurang lebih begini:
Saya: hah? Mahal banget mas olinya. Biasanya saya ganti oli 105 rb doang.
Dia: itu mah merk P bu
Saya: top 1 kok
Dia: kan tadi saya udah bilang top 1 abis
Saya: iya saya juga tau, tapi mas tadi ga bilang harganya beda
Dia: iya tapi kan kata bapaknya (teman saya yang mengantar saya dan langsung pergi lagi), castrol gapapa
Saya: bukan bapaknya, saya yang bilang pake castrol aja
Dia: oh iya
Saya: tapi harusnya bilang dong kalau harganya beda
Dia: saya kan udah bilang top 1 ga ada
Saya : (mulai emosi) iya, kalau harganya beda sejauh gini harusnya bilang sama saya berapa. Jadi saya bisa pertimbangin.
Dia: tapi castrol 1040 bagus da bu. Sok geura bawa, lebih empuk
Saya: ya iya dong mas, lebih mahal juga. Bisa debit atau kartu kredit ga?
Dia: ga bisa bu
Saya: jadi gimana dong. Nih liat dompet saya (ngeliatin dompet yang isinya tinggal 4 ribu)
Dia: aduh gimana atuh bu, yang punyanya ga ada lagi
Saya: gimana dong mas, temen saya tadi juga udah pergi
Dia: coba tanya montirnya yang tadi. Tolong panggilin bu.
Saya: ga mau, panggil aja sendiri, saya ga tau namanya siapa

Akhirnya dia menghampiri montir yang tadi mengerjakan Bill, berbisik-bisik sebentar, dan datang lagi pada saya, “ya, gapapa deh bu 430 ribu aja”, yang saya jawab, “bener, gapapa?”. Dia pun membenarkan dan menolak mengganti bon yang diberikan pada saya.

Saya tidak tahu bagaimana nasib penjaga counter tadi. Mudah-mudahan dia tidak merugi. Tapi saya rasa saya pun enggan kembali ke bengkel itu untuk memberi selisihnya, toh dia sendiri yang mengatakan tak apa, dan saya berterimakasih untuk itu.

Apakah saya kapok ke bengkel itu? Tidak. Lain kali, saya akan ke sana lagi, namun dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Hasil kerjanya bagus, dan memang Bill terasa lebih enak dengan Castrol 1040. Memang dibutuhkan pengorbanan yang setimpal untuk hasil yang bagus. Jangan salah, Top 1 juga bagus, walau terbuat dari bahan sintetis yang menguap kena panas.

Tapi inti tulisan saya bukan membandingkan dua jenis Oli ini… intinya,… yah, yang jelas Senin nanti saya lebih tenang berangkat ke Cikarang dengan Bill yang siap dan empuk,… ah, saya hanya harus mengecek karburator dan bannya saja.

Advertisements