Gembok yang rusak dan duduk mengangkang di motor


Kebiasaan saya adalah menyimpan perlengkapan mandi di loker Gold’s Gym. Dulu, para member sudah diingatkan untuk tidak menaruh barang semalaman di loker (menginap). Karena dulu sistemnya adalah kunci loker, maka petugas dengan mudah membuka loker dengan kunci cadangan.

Saya termasuk member yang nakal, seringkali membiarkannya menginap sampai keesokan harinya. Namun dulu, karena sistemnya adalah kunci, petugas dengan mudah mengetahui loker yang mana berisi barang siapa. Mereka tahu pasti barang saya di loker mana, dan dengan sesadar-sadarmya mereka buka loker itu, bereskan barang saya dan disimpan di bawah.

image

Sejak awal Desember lalu, mereka mengubah sistem penguncian loker ini. Setiap member wajib membawa gembok sendiri dan bertanggung jawab atas gembok dan kuncinya masing-masing. Sosialisasi ini berlangsung sebulan, dan saat ini semua member sudah membawa gemboknya sendiri.

Awalnya (sampai saat ini, sebenarnya), ketika sistem baru diterapkan, begitu banyak masalah terjadi. Tidak sedikit yang kelupaan menggembok pintu sementara kuncinya di dalam (biasanya ini terjadi pada ibu-ibu akhir 40an dan awal 50an yang lagi puber dan suka sekali cekikikan) atau ibu-ibu yang menggunakan gembok bernomor dan melupakan kombinasi nomornya. Untuk gembok-gembok kecil, mereka akan meminta bantuan satpam untuk mencungkil gembok sampai rusak. Namun untuk gembok-gembok pagar ukuran jumbo, mereka membutuhkan gergaji dan tidak hanya merusak gembok, tapi besi tempat gembok ini digantungkan. Untuk kasus ini, member harus bayar 200 – 300 rb tergantung kerusakan.

Masalah lain yang tidak kalah penting menurut saya adalah kesamaan kunci untuk gembok sejenis. Pernah suatu kali saya minta tolong anak didik saya mengambil barang saya di loker. Saya lupa memberitahu dia nomor loker saya, tapi anak didik saya tahu jenis gembok saya, jadi dia mencari dan menemukan loker yang memiliki gembok seperti saya. Dia buka, dan terkejut…. karena isi loker itu bukan barang saya. Cepat-cepat dia kunci lagi dan mencari loker lain, dan ketemu. Beberapa gembok sejenis memiliki kunci sama. Menurut saya, ini masalah!

Nah, mengenai barang menginap, saya, member bandel ini, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan. Baru saja saya mendapat jawabannya. Kemarin pagi, saya membiarkan barang saya di loker dengan pemikiran sorenya saya ingin membakar lemak (berat badan saya sedang meningkat… :'(…) Ternyata siangnya saya mengunjungi seorang teman untuk mengurusi buku saya. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa kembali tepat waktu untuk mengambil barang saya.

image

Apa yang terjadi? Tadi siang saya menemukan loker tempat kemarin saya menyimpan barang dalam keadaan kosong melompong… tidak ada barang saya. Saat saya tanya, mereka mengatakan barang saya disimpan di kantor manager setelah gemboknya dirusak paksa kemarin malam. Dengan agak kesal, namun tidak bisa marah karena itu memang salah saya, saya turun ke kantor manager dan mengambil barang saya

Ketika saya naik ke atas, saya bertemu Mbak yang tadi menyampaikan kabar buruk itu untuk minta handuk baru. Dengan wajah setengah takut (padahal saya belum menunjukkan taring saya), dia bertanya “handuk yang kemarin mana, Mbak”, kontan saya langsung menunjukkan taring saya dan menjawab dengan pedas, “mana saya tau, kan kemarin loker saya dibongkar”. Dia kemudian masih berani menjawab (yang membuat saya makin kesal), “coba di tasnya periksa dulu, Mbak”.

Tak lama temannya yang jaga kemarin malam datang, dan dia bertanya, “anduk Mba Yoanna udah diambil?”, yang dijawab “sudah” oleh temannya. Belum puas melampiaskan kekesalan saya pun berkata “logikanya kalo loker saya dibongkar, anduknya diambil dong. Kan anduk di sini…masa dimasukkin tas saya”. Tanpa berkata apa-apa (hanya nyengir ketakutan), dia memberi handuk baru pada saya.

(Kalau di Malaysia mungkin petugas akan memasang wajah sangar dan saya yang nyengir ketakutan)

Saya tidak protes karena saya pikir aturan sudah diterapkan dengan baik, dan memang seperti itulah seharusnya. Namun seringkali kesalahan bukanlah terletak pada ditegakkannya aturan atau tidak. Seringkali kesalahan terletak pada aturan itu sendiri. Menurut saya (dan kebanyakan member) kunci adalah sistem yang paling baik, simple dan aman.

Diubahnya kunci menjadi gembok menurut kami adalah kemunduran (walau membuka kesempatan bagi sebagian orang berjualan gembok) walau sistem gembok ini juga digunakan oleh tempat gym lain.

Sebelum suatu sistem diterapkan seharusnya dipikirkan masalah-masalah yang mungkin timbul dan membandingkan dengan alternatif sistem lainnya. Gunakan sistem yang terbaik, dengan resiko terendah dan peluang masalah terkecil.

Sistem yang aneh baru saja kita temukan di salah satu kota di Aceh yang melarang wanita duduk ngangkang saat berada di motor. Jika aturan ini sudah diterapkan, maka siapa saja yang melanggar, harus dikenakan sanksi. Tapi permasalahan utamanya adalah, apakah itu aturan yang bijak?

Ketika kemudian angka kecelakaan meningkat, apakah sebuah aturan dapat dijadikan kambing hitam?

Ketika pertama mendengar tentang hal ini dari adik saya, saya pikir dia mengada-ada sampai saya membaca sendiri beritanya di sini.

Alangkah kagetnya saya di era seperti ini masih ada manusia berpikiran picik seperti itu. Jika ibu Kartini tahu, mungkin ia bisa bangkit dari kubur untuk menyerukan emansipasi wanita sekali lagi.

Saya pikir, jika aturan ini jadi diterapkan, sebagai orang Indonesia kita wajib malu karena di salah satu bagian negeri ini wanita hanya dianggap obyek pembangkit hasrat tidak senonoh pria. Wanita hanya dijadikan mahluk primitif yang bahkan tidak memiliki hak untuk mengendarai sepeda atau motor.

Ah, andaikata saya punya otoritas, saya akan tertawakan aturan itu di depan pencetusnya, seorang pria yang (sok) suci, yang tidak berbeda dari raja dangdut itu.

Advertisements

One thought on “Gembok yang rusak dan duduk mengangkang di motor

Comments are closed.