Shuttle bus itu bukan dongeng
Akhirnya tiba di hari keempat… hari terakhir sebelum besok kami pulang ke Indonesia. Pagi-pagi setelah sarapan, kami naik shuttle bus ke tempat sky train, karena terminal bus ke KL sentral ada di tempat itu. Beruntung kami sabar sedikit saja… kemarin, terjadi kesimpangsiuran berita, semua orang mengatakan ada free shuttle bus ke terminal sky train, sementara petugas skytrain yang kami tanyai mengatakan ia belum pernah mendengar perihal shuttle bus.
image

Tentu saja awalnya kami lebih percaya petugas itu, sampai tadi pagi kami nekat ke bus stop, untuk coba-coba. Ada sebuah keluarga India yang memutuskan naik taksi setelah saya bilang bahwa “I’m not sure there is a shuttle bus because the officer in the skytrain terminal said that she doesn’t know about it” (maaf ya pak…). Baru saja keluarga itu naik taksi (ditulis teksi dalam bahasa Malaysia, aneh ya…), sekonyong-konyong muncullah shuttle bus itu dan seorang ibu hamil dan suaminya yang juga sedang menunggu mengatakan “ini shuttle busnya, naik ini ke sky train”…fiuh… money saving… 10RM.

Kuala Lumpur transportation system
image

Dari terminal sky train kami naik bus sekitar satu jam ke KL sentral, keluar, menyeberang untuk naik monorail. Saya kagum juga dengan sistem transportasi Malaysia. Walau tidak serapi Singapura, namun semua berlangsung tertib, sistematis dan mudah. Beli koin biru, gesek, naik monorail, masukkan koin…selesai. Belum lagi ada beberapa jenis alat transport yang berbeda untuk tujuan berbeda.
image

Sebagai orang Indonesia yang memiliki Nasionalisme besar, saya terpaksa mengakui, Malaysia lebih hebat dari Indonesia dalam hal public transportation… dan gawatnya, untuk pariwisata, hal itu sangat penting. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika di Indonesia ada escalator di jalan untuk membawa penumpang naik ke stasiun monorail… mungkin akan dipenuhi anak-anak yang main-main di atasnya…

Tune hotel
image

Hotel tempat kami menginap di Kuala lumpur terletak di daerah Medan tuanku, bernama Tune hotel. Hotel dengan gaya minimalis yang unik, didominasi warna merah dan putih. Hotel ini sangat murah (kami menyewa dua kamar, saya mendapat kamar sendiri), nyaman, dan bersih.
image

Berbeda dengan hotel lain, di hotel ini kami hanya dapat handuk. Tidak ada kopi, teh dan air panas. TV tidak menyala kecuali kami bayar ekstra. Di hotel ini juga ada paket individu, tidak dapat handuk, dan AC tidak nyala kecuali bayar lagi… Berbeda dengan Indonesia, jarang sekali free wi fi di hotel kami harus bayar untuk wi fi, …fiuh…

Jalan Bukit Bintang
image

Bukit Bintang adalah tempat yang menakjubkan, terutama pada Christmas Eve seperti ini. Satu hal yang mengherankan saya adalah banyaknya dekorasi Natal di negara ini,… yang menyebut diri negara dengan hukum Islam. Rupanya mereka sudah memiliki pikiran terbuka dan menyadari bahwa turis dan pariwisata adalah pemasukan negara (sepertinya tidak ada ormas sejenis FPI di sini).
image

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk foto di Pavillion mall, dan untuk belanja di toko Jepang, serba 5RM, benar-benar menggiurkan.

Kemana keramahan itu
Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kurang ramahnya pegawai toko di Malaysia (juga Singapura), termasukpegawai toko sejenis seven eleven. Jika Anda bertanya mereka akan menjawab dengan terpaksa dan tanpa senyum (padahal kita sedang belanja lho). Mereka yang cukup ramah adalah orang India, dan Indonesia. Jadi, jika Anda kemari, Anda punya kesempatan untuk menunjukkan keramahan bangsa kita dengan banyak senyum, banyak bilang “terima kasih” dan “please”.

Baik, waktunya tidur… besok, kami akan ke Menara Kembar, check out, titip barang di KL sentral, dan pulang pukul 19.20 (ada reschedule… seharusnya kami pulang pk. 17.45). Sampai besok di Indonesia….

Advertisements