Day 2
Hari kedua kami masih di Singapura. Pagi tadi kami naik taksi ke hotel (yang tidak mau menerima kami karena belum waktunya check in), menitipkan barang, kemudian naik taksi ke Bugis, membeli oleh-oleh, melanjutkan dengan MRT ke China Town, juga membeli oleh-oleh (saya mulai merasa ada yang salah dengan tradisi oleh-oleh ini).
image

image

Dari sana kami kelelahan dengan bawaan kami yang sebagian besar adalah oleh-oleh, sehingga kami putuskan untuk check in ke hotel. Setelah istirahat 45 menit, kami naik taksi ke far east plaza sambil menunggu gelap, karena far east plaza letaknya dekat dengan Orchard Road, The World Best Avenue, dan kami berniat melihat pertunjukkan lampu di Orchard…

Setelah puas foto-foto, kami pun tidak tahan lagi,… memutuskan kembali ke hotel. Saat saya menulis ini, mama sudah tidur dan papa sedang nonton soccer….

Ternyata gadget itu…
Hari ini saya menemukan apa yang mereka lakukan dengan headphone dan gadget yang mereka pandangi. Saya kira mereka sedang browsing, atau dengerin musik, atau chatting…Ternyata, sebagian besar dari mereka menonton. Mungkin tidak semua, ada juga yang mendengarkan musik,… tapi gadget-gadget yang saya intip hari ini menunjukkan bahwa pemiliknya sedang menonton film.

Aturan membuat semua aman
Hari ini saya baru menemukan kebenaran kata-kata ini… aturan membuat semua aman terkendali. Jarang ada kecelakaan karena semuanya diatur, menyeberang jalan pada tempatnya dan saat lampu menyeberang hijau, tidak makan dan minum di MRT, angkutan umum berhenti di tempatnya, angkutan umum tepat waktu, dll. Belum lagi banyaknya camera di Singapura (mungkin ingin menyaingi mata Tuhan), membuat semuanya terkendali. Tidak ada yang berani speeding, atau mencopet, atau mengganggu gadis di jalan, karena mereka merasa diawasi.

Saya berpikir, bagaimana seandainya suatu saat semua kamera itu dicabut… apakah tetap tidak ada copet, speeding, atau pengganggu gadis?

The other side of the city
image

Hotel tempat kami menginap sekarang, jalan Geylang, sepertinya berada di sisi lain dari Singapura, baik dari lokasi maupun penampilannya. Kalau sebelumnya kami berada di sisi metropolitan dari Singapura, di sini walau masih tetap teratur, kami seperti berada di pinggiran. Ada beberapa sampah (walau sangat sedikit), orang menyeberang tidak di tempatnya, dan trotoar tidak sebagus di sisi yang satunya.

Tapi saya pikir ini perlu, untuk keseimbangan, dan untuk menunjukkan, warga di kota ini masih manusia…

Mengenai Evian 16 dollar itu…
image

Oya, Anda masih ingat Evian yang saya ceritakan kemarin? Kami tidak membayar. Saat kami ditanya “anything from the minibar?” Saya menjawab “I don’t take anything from the refrigerator”, dan the customer service said, “okay, done…bye…”, saya tanya “done? We can go now?” Dijawab, “ya, have a nice day” dengan senyum manis…. Saya tidak bohong kan? Kami tidak ngambil apa-apa dari kulkas kok… Evian itu ada di luar kulkas, di tempat terbuka… haha..

By the way… saya sulit sekali menangkap bahasa Inggris orang-orang Singapura ini… logat mereka aneh sekali…

Okay… enough for now… besok harus bangun sangat pagi karena kami akan lanjut ke Malaysia dengan bus. See you tomorrow…

Advertisements