Saat ini saya  sedang menunggu kedatangan Santa dan Piet di salah satu tempat bermain anak di Bandung. Adik saya menitip salam, tapi saya rasa mereka tidak akan mengenalnya. Jadi, dengan sangat menyesal saya tidak akan menyampaikannya.

Saya jadi teringat saat SD dulu. Saya sekolah di Sekolah Kristen yang mementingkan agama, dengan kepala sekolah isteri hamba Tuhan. Namun demi kesenangan siswa (dan mengancam mereka yang nakal), beberapa guru menyamar menjadi Santa dan piet hitam (oya, saat ini saya masih berteman dengan salah satu bapak baik hati yang dulu jadi piet hitam, dan beberapa kali pernah memintanya menjadi Santa di acara Paskah saya. YA… paskah hahaha).

image

Waktu saya SD dulu, Piet hitam datang berteriak-teriak dengan peluit dan sapu lidi, sementara sinterklas datang dengan anggun, berjanggut putih panjang, berjubah merah panjang, menggunakan topi tinggi seperti paus dan tongkat emas… begitu bersahaja (tidak seperti gambaran santa di tv yang gendut, cengengesan dengan topi lunglai, baju mandi dan celana kebesaran).

Piet hitam memegang daftar anak nakal (mungkin hasil laporan orangtua atau guru), memasukkannya ke karung dan dibawa ke kutub utara (tentu saja tidak mungkin, mereka hanya dibawa ke belakang, diberi minum supaya tenang dan dinasihati). Mungkin orangtua dan guru berpikir shock teraphy itu cukup untuk setahun si anak akan berubah.

Orangtua sebelumnya membelikan kado yang diberikan kepada santa dan piet untuk diberikan pada anak-anak mereka. Sampai saat ini, hal tersebut merupakan sesuatu yang menakjubkan untuk saya. Anak-anak tidak tahu kalau hadiah itu dari orangtua mereka. Siapa orang baiknya? Pria tak dikenal dengan jubah yang dipuji dan dinantikan setahun sekali. Orangtua hanya penonton yang dalam setahun sering memarahi mereka… WOW!!!!!

Semua kesenangan ini merupakan kenangan tak terlupakan mengenai natal. Kesenangan seperti ini masih dipertahankan turun temurun. Orangtua saat ini masih membelikan anak-anak mereka kado, dititipkan pada sekolah (atau mall) yang mengadakan acara, dan akan dibagikan pada anak-anak.

Pertanyaannya adalah, apakah semua kesenangan ini salah? Apakah menanamkan kenangan indah akan Santa dan Piet ini merupakan kekeliruan turun temurun?

Dunia anak adalah dunia yang menyenangkan. Penuh dengan fantasy dan kisah-kisah bohong yang indah. Suatu saat, seorang anak yang beranjak remaja akan mengetahui bahwa semuanya kebohongan. Sebagian dari mereka menganggap itu sesuatu yang indah,  mereka meneruskannya ke anak-anak mereka. Sebagian menganggapnya konyol dan menghentikan kebohongan itu di generasinya.

Saat saya menulis bagian ini, sebagian anak sedang “disidang” oleh om Piet (ada satu yang menangis setelah mengucap janji). Ada yang disidang karena suka marah sambil mukul-mukul, ada yang disidang karena suka ngambek. Mereka diminta berjanji tidak melakukannya lagi di tahun depan. Mereka adalah anak-anak dari orangtua yang menyerah…. menyerah untuk membina karakter mereka, dan memutuskan untuk menyerahkan kasus ini pada om Piet.

Di tulisan ini saya tidak akan membahas apakah kita boleh atau tidak main santa-santaan.  Saya hanya akan membahas beberapa hal penting:
1. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggungjawab atad perkembangan karakter anak. Menyerahkan kasus kenakalan anak pada om Piet yang mengancam tahun depan akan mengarungi anak yang tetap nakal bukanlah solusi pembinaan karakter anak.

2. Orangtua yang cerdas tahu kapan mengajar kebenaran dan kapan mengajak anak bersenang-senang. Santa, tidak bisa dipungkiri, adalah badut penceria momen natal. Suatu dekorasi hidup yang dipajang beberapa mall untuk menambah keceriaan momen akhir tahun. (Saya sama sekali tidak anti santa, hanya meminta gereja berpikir ulang jika mau memasukkan santa ke gereja).

Orangtua yang cerdas tahu bagaimana menempatkan santa di tempat semestinya dalam sebuah momen natal tanpa mengurangi keceriaan akhir tahun.

3. Santa adalah simbol kebaikan hati, namun Kristus adalah simbol Kasih yang besar. Ada perbedaan antara kebaikan hati dan kasih. Santa adalah tokoh yang digambarkan memberi kado, namun tanpa kasih, hanya peduli catatan kebaikan dan kenakalan anak.

Kristus adalah simbol kasih yang tak terbatas. Merelakan dirinya masuk ke dalam rahim wanita muda, tak berdaya bahkan untuk membersihkan kotorannya sendiri saat bayi. Untuk apa? Agar ia memahami manusia ia harus jadi manusia. Karena apa? Karena kasih yang tak terbatas.

Bagaimana dengan Anda? Saat mendidik anak, motivasi Anda kebaikan hati semata-mata, atau kasih seperti Kristus?

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah kabar baik tentang Kristus dan kasih-Nya Anda sampaikan sendiri pada anak-anak Anda?

4. Natal itu momen untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan kasih. Saya baru memiliki sebuah pemikiran gila. Ketika kita mengucapkan “selamat natal”, bagi saya itu berarti “selamat, bagimu Tuhan telah menjadi manusia”. Namun bukankah ucapan itu tidak berlaku hanya di bulan Desember? Setiap hari, kehidupan kita perlu dimaknai dengan ucapan syukur karena Tuhan menjadi manusia untuk kita….

Karena Tuhan tidak pernah meminta kita merayakan natal, maka bagi saya Natal adalah ketika kita merayakan kasih bersama keluarga. Berlibur, makan bersama, evaluasi tahunan… waktunya bersenang-senang setelah satu tahun bekerja.

Anda menuduh saya kurang rohani? Bagaimana dengan ini?

5. Hal yang terindah yang dapat diisi seseorang dengan hari Natal adalah memperkenalkan tentang Tuhan yang menjadi manusia pada orang lain (itu sebabnya saya bingung dengan gereja yang membatasi tiket natal untuk jemaat: satu tiket untuk tiap orang, no extra ticket)

Jika Anda memiliki tiket perayaan Natal, dan gereja Anda membatasi jumlah jemaat yang hadir untuk perayaan itu, saran saya sebaiknya berikan saja pada teman Anda yang ingin mengajak temannya ke gereja tapi kehabisan tiket.

Bagaimana dengan saya?

Tahun ini saya tidak merayakan natal di gereja karena saya akan berlibur bersama papa dan mama saya (saya tidak mengambil tiket, mudah-mudahan tempat saya bisa digunakan jiwa baru hehe). Sepanjang tahun ini, karena kesibukan, sedikit sekali waktu saya bersama mereka. Saya akan menggunakan momen natal ini untuk bersantai dan bersenang-senang dengan mereka.

Natal adalah harinya semua orang…. Karena Tuhan tidak membatasi dirinya untuk orang tertentu. Bagaimana mengisi Natal adalah pilihan setiap orang. Namun hal terpenting bukanlah bagaimana mengisi beberapa minggu di bulan Desember, namun hal terpenting adalah Kristus telah menunjukan kasihNya pada Anda… bagaimana Anda menyalurkannya pada orang lain sepanjang tahun?

Akhir desember adalah waktunya berlibur, dan mengevaluasi tentang penyaluran kasih itu…

Advertisements