Saya lapar…. bahkan kelaparan. Perut saya belum diisi apapun sejak bangun pagi, hanya sekotak kopi favorit saya, Nescafe Coffee Cream. Jadi barusan saya ke Wendys, membeli sebongkah dada ayam yang juga favorit saya dan junior frosty untuk menurunkan tekanan emosi yang saya alami karena kelaparan…. Saya masih di Wendys saat menulis ini.

Saat mengantri saya melihat sebuah kejadian yang tak bisa saya lupakan sementara saya makan. Antrian di depan saya adalah seorang remaja putri sekitar 14 tahunan, tampaknya penderita autisme, didampingi oleh seorang ibu, entah pengasuh atau tantenya.

Anak ini membeli ayam, sepertinya dada juga dan nasi…dibungkus. Seperti kebiasaan di Wendys, pembelian ayam untuk dibungkus akan menggunakan karton lipat yang terbuka, dimasukkan ke kantong kertas. Benar-benar ramah lingkungan, tapi merepotkan jika kita makan di jalan. (Kalau di rumah, Anda akan memerlukan piring untuk memakannya).

Saat pesanan datang, remaja ini berteriak “MANA AYAMNYA”, Ibu yang mendampinginya seperti malu menjawab, “ada di dalam”, kemudian melihat ke arah saya (yang dengan bijak pura-pura tidak melihat dan memasang wajah menderita karena kelaparan akut).

Kemudian remaja ini berteriak lagi, “MANA PIRINGNYA?”. Dijawab oleh pramusaji, “dibungkus kan?” (Tentu saja tidak berteriak). Ibu pendampingnya dengan nada membujuk bicara pada anak ini, “iya kan dibungkus”.

Dengan volume suara yang tetap sama sambil menunjuk bungkus styrofoam yang ada tutupnya (untuk kemasan kentang panggang wendys) anak ini berteriak “MINTA PIRING”.

Pendampingnya sambil tersenyum-senyum malu, dan melirik ke arah saya (yang masih pura-pura tidak peduli dan menganggap semuanya normal) berkata pada pramusaji, “oh, minta piring itu”. Pramusaji pun memberikannya tanpa banyak bicara, dan anak ini langsung membongkar ayamnya, memasukkannya ke kemasan styrofoam itu, memasukkan ke keresek dan tidak berteriak-teriak lagi.

Mau tahu apa yang saya rasakan saat itu? Saya KAGUM. Saya kagum pada anak ini yang berpikir jauh ke depan. Ia pasti memikirkan sulitnya makan hanya dengan bungkus kertas dan nasi yang juga dibungkus. Saya kagum anak ini berani meminta, mengutarakan keinginannya, walau dengan keterbatasannya.

Seringkali sebagai orang dewasa kita dipaksa jaim dan terlalu memikirkan “resiko malu” saat menginginkan sesuatu. Saya pernah menjadi korban, eh pelaku… ya pokoknya pribadi yang sok jaim.

Entah sejak kapan saya mulai berpikir bahwa menjadi orang dewasa itu bukannya tidak mengutarakan apa yang ada di pikiran atau perasaan, tapi sanggup mengutarakannya dengan cara yang tepat dan sopan (walau saya akui ada beberapa hal yang sifatnya tidak penting untuk diutarakan, atau juga tidak perlu disampaikan).

Saya beri contoh, saat kita bertamu ke rumah orang, kemudian tuan rumah bertanya, “sudah makan?”. Apa jawaban kita? Walau belum makan dan laparnya minta ampun, kita biasanya jawab, “sudah!” Haha, Anda pasti tanya dalam hati, “lalu harus jawab apa?”. Menurut Anda apa yang akan dijawab seorang anak, sampaikan itu secara dewasa…

Beberapa hari yang lalu, dalam komentar di facebook saya, om saya membahas mengenai sebuah buku yang membahas kebohongan pada diri sendiri. Menurut buku itu, kata om saya, dalam sehari, ada 200 kebohongan yang kita buat terhadap diri sendiri. Om saya memberi contoh, jika kita ke bengkel, kemudian menemukan harganya kemahalan, bukannya bertanya komponen harga dan mengapa bisa semahal itu, kita diam saja dan berjanji dalam hati tidak akan ke bengkel itu lagi.

Melihat anak tadi, saya teringat pada kata-kata om saya beberapa hari yang lalu itu. Saya menyimpulkan, sebagai orang dewasa seringkali kita melakukan hal itu, bohong pada diri sendiri, berakhir dengan ngomel dan sungut-sungut.

Sebagian orang menjadikannya mudah dengan, “ya sudah ga usah ngomel, ngalah aja, nrimo aja”. Saya pikir itu bukan solusi yang tepat. Menjadi orang dewasa bukan berarti kita nrimo dan menerima apa saja yang diberikan pada kita dengan alasan “mengalah”. Menjadi orang dewasa artinya kita bisa menyampaikan pemikiran, perasaan, apa yang kita inginkan atau harapkan dengan bijak. Bukankah integritas juga berarti kesamaan antara  apa yang dikatakan, pikirkan, lakukan… hanya saja, sekali lagi saya tekankan, sebagai orang dewasa, lakukan dengan bijak dan terkendali… jangan berteriak-teriak atau ngajak ribut! Yaah, minta hikmat Tuhan dan lihat situasinya….

Advertisements