Proses, Motif, serigala dan domba


Saya baru saja berdiskusi dengan seorang teman mengenai suatu topik yang sangat menarik menurut saya… Bagi saya, seorang lulusan teknik industri yang biasa bergelut di dunia produksi, proses jauh lebih penting daripada hasil. Untuk menghasilkan produk yang baik, kendalikan prosesnya. Proses yang baik adalah proses yang efektif dan efisien. Menurut teman saya, seorang marketing, yang penting adalah hasil. Tidak peduli bagaimana prosesnya, yang penting apakah hasilnya bisa dijual atau tidak…. bagaimana menurut Anda? Proses atau hasil yang penting? Dua-duanya? Jika Anda disuruh memilih, mana yang lebih mudah dikendalikan?

Pembicaraan kemudian berlanjut ke “motif vs akibat”. Bagi orang seperti saya, mengetahui motif dibalik kebaikan seseorang itu penting. Mungkin Anda menyangka saya berlebihan, tapi saya pernah memiliki sebuah pengalaman buruk karena terlalu mempercayai seseorang. Saya ini dulunya (entahlah masih atau tidak) adalah seorang yang polos cenderung naif. Saya selalu menelan bulat-bulat apa yang orang lain katakan pada saya, hingga suatu saat saya mengambil kesimpulan bahwa antara tulus dan bodoh itu bedanya tipis.

Tidak… saya tidak pahit atau mendendam, saya hanya berusaha cerdas dan tidak mau melakukan kesalahan yang sama dua kali. Bukankah walaupun tulus kita juga harus cerdik? Bukan juga berarti saya selalu mencurigai dan skeptis. Saya hanya mencoba berpikir lebih logis. Untuk urusan bisnis, apa yang membuat seseorang memberi keuntungan pada saya? Pastilah mereka mengharapkan saya melakukan sesuatu untuk mereka sebagai balasannya.

Persoalannya sekarang adalah, apakah jasa yang saya beri akan seimbang dengan apa yang saya peroleh? Untuk urusan pertemanan, dalam banyak kasus, apalagi di dunia orang dewasa, seringkali tersembunyi motivasi “lain” di balik kebaikan hati yang berlebihan. Motivasi ini tidak selalu uang. Saya beri contoh, ada orang kaya yang melakukan segala cara untuk mengambil hati orang, mulai dari memuji-muji, memberi hadiah berlebihan, membuatkan lagu untuk temannya, hingga berpuisi ria. Alasannya tentunya bukan uang. Beberapa orang kaya melakukannya agar orang-orang tersebut dapat melakukan apapun yang diinginkannya

Saya tidak menyalahkan hal itu, tapi bagi saya, melakukan sesuatu secara berlebihan tanpa motif yang jelas untuk orang lain (yang bukan isteri, anak, keponakan) adalah hal yang tidak wajar. Lebih terkesan ingin menanamkan hutang budi dibanding kebaikan semata-mata.

Bukankah kebaikan lebih berarti jika diberikan berdasarkan kebutuhan si penerima, dan bukan kebutuhan cari muka si pemberi? Katakanlah saya seorang yang skeptis terhadap kehidupan, tapi setiap orang berhak berpendapat bukan? Motivasi adalah hal yang penting, menentukan tingkat kewarasan seseorang, seperti yang pernah saya tulis… bahkan kasih pun diberikan dalam batas wajar.

Sekali lagi, kasih diberikan untuk kepentingan si penerima, bukan kebutuhan cari muka pemberi. Memiliki motif yang tersembunyi hanya akan merusak hubungan, jika tidak hari ini, mungkin di masa yang akan datang. Menerima pemberian yang “brutal” dengan naif hanya akan menimbulkan peluang kecewa di masa yang akan datang.

Dalam bukunya, “it’s all about Him”, Max Lucado mengatakan bahwa satu-satunya yang boleh “cari muka” dan ingin dipuji karena melakukan kebaikan hanyalah Tuhan karena memang seluruh dunia bergerak oleh Dia, karena Dia dan untuk Dia.

Setelah panjang lebar ngalor ngidul seperti ini, saya cuma ingin menyampaikan bahwa untuk segala sesuatu itu ada yang kelihatan, ada yang tidak. Seringkali yang terpenting adalah bagian yang tak terlihat. Proses untuk sebagian orang tidak kelihatan, tapi itu sangat berpengaruh pada hasil. Motif tidak terlihat, tapi itu berpengaruh pada sebuah hubungan jangka panjang. Analisa dan hikmat tidak terlihat, tapi hal itu sepenting ketulusan dalam sebuah hubungan.

Entah nyambung atau tidak, saya mau mengangkat masalah serigala berbulu domba. Dalam candaan saya sebagai penutup percakapan dengan teman saya tadi, saya menyebut soal serigala berbulu domba. Saya katakan, jaman sekarang bukan hanya serigala berbulu domba yang banyak ditemukan, tapi domba berbulu serigala.

Mungkin Anda tidak mengerti maksud saya. Sebaiknya saya tulis di post berikutnya saja… kalau terlalu panjang…. saya tidak mau membuat Anda bosan.

Advertisements