Salah satu kalimat yang tidak saya sukai (baru saya sadari akhir-akhir ini) adalah “saya mah ga mau ribut”. Jangan salah sangka… bukan berarti saya suka keributan atau suka cari ribut. Saya sadar betul dengan perintah Tuhan “sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Rm 12:18). Saya hanya tidak suka ketika kalimat itu digunakan sebagai alasan seseorang untuk menghindari konflik karena suatu sebab.

Baik, biar saya beri contoh agar pembaca tidak merasa pusing atau menduga-duga. Anggaplah ada seorang isteri muda tidak suka pada kebiasaan suaminya yang kasar atau tidak suka memberi informasi jika pulang terlambat. Bukannya langsung membicarakan hal ini pada suaminya, ia malah membicarakannya dengan orang lain, sambil berkata “saya mah orangnya ga mau ribut”. Atau ketika seorang merasa dirugikan oleh temannya, bukannya langsung membicarakannya, malah membicarakan dengan teman yang lain sambil brkata “saya mah ga mau ribut”.

Bagi saya, kalimat itu lebih terdengar sebagai suatu kepengecutan dibanding pengorbanan tulus. Membicarakan ketidaksukaan atau masalah dengan orang lain, tidak identik dengan cari ribut, selama kita dapat menyampaikan ketidak sukaan dengan bijak.

Saya pernah berdebat dengan seorang teman yang temperamental. Ketika marah, dia seringkali membantingkan barang atau merusakan apa yang ada di sekitarnya. Perdebatan itu akhirnya membawa kami pada pertengkaran. Sementara saya tetap tenang (salah satu kekurangan saya adalah, saya bisa sangat menjengkelkan orang lain dengan tetap tenang), teman saya mulai marah dan menyobekkan uang yang ada di depannya. Dengan tenang saya berikan dia solatip, saya katakan “silahkan sambungkan uang ini, kemudian kita lanjutkan keributan tadi”. Dia kaget sekali, karena biasanya orang lain ketika melihat dia marah akan langsung diam, dengan alasan “tidak mau ribut”.

Masih dalam kekagetannya, dia mulai menyambungkan uang itu menjadi bagian utuh (saya rasa uang itu tetap tidak akan laku, tapi setidaknya teman saya punya waktu berpikir dan menenangkan diri). Setelah uang itu tersambung, saya dan teman saya kembali melanjutkan perdebatan kami hingga menghasilkan jalan keluar. Saat ini saya dan dia adalah teman baik. Dia tahu kebiasaan buruknya yang tidak saya sukai dan berusaha mengubahnya, demikian juga saya (dia juga mulai mengurangi kebiasaannya merusak barang jika marah, dan saya mulai berhati-hati dengan kata-kata saya).

Bagi saya, tidak ada yang salah dengan “ribut” sejauh itu bertujuan mencari solusi. Menghindari keributan (sebenarnya menghindari diskusi) hanyalah seperti memendam gunung es. Menurut pengamatan saya, begitu banyak hubungan yang “dingin” sebagai akibat dari menghindari ribut, yang sebenarnya adalah menghindari diskusi yang sehat.

Beberapa hari yang lalu saya bicara dengan seorang bapak berusia akhir 50an. Kami membicarakan anak asuhnya, seusia saya yang baru menikah dan sedang dalam tahap menyesuaikan diri, banyak perdebatan, banyak keributan. Saya lantas mengatakan padanya bahwa adik saya juga baru menikah, dan mungkin saja dia juga sedang mengalami hal itu. Bapak yang bijak tersebut berkata, “dalam rumah tangga yang sehat, ketidak cocokan di awal pernikahan itu hal yang biasa. Yang harus dilakukan pasangan adalah jangan takut ribut, itu adalah musuh yang paling bahaya. Waktu salah satu menarik diri, menolak untuk membicarakan masalah karena takut ribut, di situlah dimulai sikap apatisme, hubungan kemudian menjadi dingin karena tiap orang memendam ketidak sukaan tanpa disolusikan”. WOW…Saya sangat amat setuju dengan bapak tadi…

Setiap orang, baik itu introvert maupun ekstrovert memiliki suatu kebutuhan untuk melampiaskan kekesalan atau mengekspresikan perasaan. Beberapa orang meledak-ledak, beberapa orang menjadi murung. Ketika suatu ketidaksukaan atau masalah dipendam dalam sebuah hubungan, maka yang paling sering terjadi, pelampiasan teradi di tempat lain. Sementara orang ekstrovert mengumumkan pada semua orang mengenai ketidaksukaannya, orang introvert biasanya mulai lari pada suatu kebiasaan merusak dirinya sendiri.

Hal kecil dapat menjadi suatu hal besar ketika itu tidak dibicarakan dengan baik. Contoh, dalam sebuah rumah tangga, istri yang rapi merasa frustrasi karena suami meninggalkan pakaian berceceran di lantai saat ia berganti pakaian. Karena takut ribut, ia tidak berani menyampaikan kekesalannya pada suaminya, namun selalu bersungut-sungut dalam hati saat memunguti pakaian suaminya. Suatu saat, hal ini mulai membuat dia muak, dan DHUARRRR meledaklah masalah yang sebenarnya bisa dihindari jika sejak awalhal ini dibicarakan.

Ada perbedaan antara toleransi dengan memendam masalah. Dalam contoh kasus di atas, seorang isteri yang memiliki toleransi akan memunguti pakaian suaminya dengan sukacita, tidak mengomel, dan tidak menceritakan kebiasaan buruk suaminya ini pada orang lain. Hal ini adalah baik, tidak masalah…. namun, jika si isteri mulai merasa terganggu, menurut saya, segera bicarakan.

Aduh, saya benar-benar berharap pembaca mengerti maksud saya. Intinya, ketika kita merasa sesuatu tidak beres dalam sebuah hubungan (orangtua – anak, adik – kakak, sahabat, suami-isteri), segera bicarakan. Jika itu berakhir dengan keributan, selesaikan dengan bijak. Jangan memendamnya karena itu berpotensi menimbulkan gosip, dan kebiasaan buruk lain.

Penelitian membuktikan, suami-isteri yang dapat menyelesaikan masalahnya (walaupun melalui pertengkaran dan keributan), memiliki hubungan yang jauh lebih harmonis daripada mereka yang kelihatannya tidak pernah ribut. Saya dan adik saya adalah pasangan adik kakak yang aneh (kata orang). Yovi lebih seperti sahabat terbaik saya daripada adik. Saat ditanya orang, kok saya dan adik saya bisa begitu dekat, saya akan jawab, “karena kami sudah melalui begitu banyak pertengkaran dan baikan”. Saya dan sahabat saya melalui banyak perdebatandan pertengkaran yang diselesaikan, saat ini kami tidak takut jika menghadapi perbedaan pendapat.

“Tidak mau ribut” adalah awal dari sebuah hubungan yang dingin, menimbulkan ketidakpercayaan, dan begitu banyak kepahitan. Jika memang ada sesuatu yang Anda pikir tidak dapat ditoleransi, sebaiknya langsung diskusikan, jangan takut ribut.

Saya akan mengakhirinya dengan cerita tentang mama dan papa saya. Mama saya menurut saya sangat bijak dan paham betul mengenai “kasih menutupi segala sesuatu”. Mama tidak pernah membicarakan apa yang tidak ia sukai dari papa, dan pertengkaran-pertengkaran kecil dengan papa pada orang lain, termasuk nenek saya. Banyak yang menganggap mama dan papa saya tidak pernah bertengkar. Kalau saya boleh ralat, mereka bukannya tidak pernah bertengkar, tapi mereka tahu bagaimana menyelesaikan tiap perdebatan dengan baik. Mereka tahu kapan waktunya mengalah, kapan waktunya menyelesaikan masalah. Mereka tahu bahwa tidak baik membicarakan orang yang dikasihi pada orang lain. Masalah seharusnya diselesaikan, bukan dihindari atau digosipkan.

Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak bersukacita karena ketidak adilan, tapi karena kebenaran!! Merasa ada yang tidak beres, bicarakan! Jangan tersenyum dalam ketidak adilan, selesaikan, dan senyumlah dalam kebenaran!

Advertisements