BOOM A dan G, dan Anjing yang mendisiplin dirinya


Baru saja saya bicara dengan anak didik saya mengenai boom A dan G. Ceritanya begini, kemarin saat saya di Gold’s Gym, saya mendengar seorang remaja, mungkin berusia 16 atau 17 tahun bicara dengan temannya di ruang ganti… ” gua mah anj*** latihan anj*** cape pisan gob***.” Dan masih panjang lagi ceritanya pada temannya yang hanya bengong mendengarkan. Mungkin temannya bingung menyaring cerita remaja ini, menghilangkan tiap boom A dan boom G yang menghiasi hampir di setiap kata yang diucapkan temannya.

Setelah dari Gold’s Gym, saya kembali ke kantor dan bertanya pada anak didik saya yang mengikuti hampir setiap kelas di GG dan mengenal cukup banyak orang. Ternyata baru saja saya cerita, anak didik saya langsung bisa mengenali si remaja dengan boom A dan G ini. “Oh, si anu. Iya, dia memang kalau ngomong gitu. Di depan mamanya juga gitu da. Aneh mamanya diem aja. Mungkin kebiasaan kali ya, susah ngilanginnya”

Barusan saya membahas lagi mengenai hal itu. Anak didik saya bilang, kalau mamanya (mama anak didik saya) mendengar anak itu bicara seperti itu pasti akan langsung diomeli dan kalau mamanya mendengar dia (anaknya) bicara seperti itu, mungkin akan langsung digebuki.

Sangat miris mendengar remaja memiliki gaya bicara seperti itu. Saya setuju dengan anak didik saya mengenai kebiasaan yang susah dihilangkan. Tapi masalahnya, susah bukan berarti tidak bisa, dan apakah dia memang ingin menghilangkan kebiasaan buruk ini atau tidak.

Lebih miris lagi karena ada orangtua yang segan mendidik atau menegur anaknya yang seperti itu. Beberapa orangtua mungkin tidak dapat menegur anaknya karena dia pun memiliki cara bicara yang sama, sementara beberapa orangtua lainnya tidak menegur karena merasa dulu pun ia begitu, dan beberapa orangtua lainnya tidak menegur untuk menghindari konflik dengan anaknya.

Saya ingin menyoroti beberapa hal di sini:
1. Orangtua yang mengasihi anaknya, menghajar anaknya jika salah dengan porsi yang tepat
Jaman sekarang, jarang sekali orangtua memukul anaknya. Komnas perlindungan anak membuat aturan mengenai itu yang dapat disalah mengertikan orangtua muda dengan “tidak mendisiplin anak”.

Sementara orangtua jaman dulu menurut saya lebih bijak dengan mengatakan, “pukul, tapi jangan gunakan tangan,… kemudian obati dengan tanganmu”, “pukul di pantat, pukul jangan sampai melukai, tapi cukup sakit untuk membuat efek jera”, “jangan pukul dengan emosi, tapi dengan tujuan mendidik, dengan kesadaran penuh”

Apa kata alkitab? “Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati jika engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tapi engkau menyelamatkannya dari dunia orang mati” amsal 23:13-14.

Rotan di sini bisa juga berarti kata-kata teguran atau kecaman yang keras jika diperlukan.

2. Apa yang kita katakan dan lakukan merepresentasikan diri kita dan orangtua kita.
Saat seorang anak atau remaja mengatakan atau melakukan sesuatu yang buruk, ia sedang memberikan label buruk untuk dirinya, dan orangtuanya. Jangan salahkan orang lain yang mendengar anak remaja yang saya ceritakan tadi kemudian memberi penilaian negatif pada dia dan orangtuanya yang “tidak bisa mendidik”.

Saya pernah mengatakan ini, “bukankah nama baik keluarga dijaga ketika kita saling menegur, mengingatkan dan menjaga sikap?”. Bagi orangtua, bukankah orangtua diutus untuk mengasah anak panah agar dapat ditembakkan ke sasaran yang tepat? Bukankah ini bertujuan supaya orangtua tidak mendapat malu? (Mazmur 127:4-5).

Untuk para anak, jika kaluan mengasihi orangtua kalian, bukankah seharusnya kalian menjaga nama baik mereka?

Apa kata alkitab? “Biarlah orang melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga” (matius 5:16). Lebih jauh, bukankah sikap kita mencerminkan Tuhan kita.

3. Jangan memulai kebiasaan yang buruk.
Suatu kebiasaan, yang baik atau buruk, dimulai dari satu tindakan yang diulang. Ketika kita melakukan sesuatu, selalu pikirkan dampaknya, dan nilainya. Jika itu buruk, jangan ulangi lagi. Jangan jadikan sesuatu yang buruk menjadi kebiasaan, dan lama-lama itu jadi kebutuhan dan bagian dirimu.

Satu hal yang harus diingat, hati-hati dengan pergaulanmu itu dapat merusak kebiasaan baik (1 Kor 15:33). Ketika kamu salah bergaul, kamu akan melihat bahwa apa yang dilakukan temanmu harus kau lakukan juga supaya keren, dan perlahan itu akan mengikis kebiasaan yang baik.

4. Jika sudah terlanjur memilikinya, ambil keputusan mengubahnya.
Jika kamu memiliki suatu kebiasaan buruk, mungkin boom A dan G seperti anak tadi… ambil keputusan untuk berubah. Sulit memang, tapi tidak mustahil. Toh suatu saat kamu harus berubah, mengapa tidak memulainya sekarang. Tunjuk orang yang kau percaya untuk mengingatkanmu.

Saya akan mengakhirinya dengan kisah Vilip, anjing pom tante dan nenek saya. Vilip adalah anjing pintar, dia tahu dimana harus buang kotoran, baik itu pee atau pup. Tante saya cukup keras mengajar dan membiasakannya mengenai itu. Vilip tahu dengan jelas mana tempat yang boleh dipipisi dan mana yang tidak.

Tapi Vilip ini suka keramaian. Dia akan antusias jika ada tamu yang dia kenal, salah satunya saya. Suatu saat, ketika saya di rumah nenek saya, Vilip saking antusiasnya sampai pipis di halaman berlantai keramik, padahal seharusnya dia pipis di halaman berlantai pavling blok.

Tante saya tidak membentak, dia hanya menunjuk pipis Vilip, kemudian berkata, “kamu kencing di sini ya”, dengan segera Vilip ke belakang sambil tertunduk lesu dan langsung masuk kandang. Ya, seekor anjing memasuki kandangnya dengan kemauannya, tanpa disuruh.

Jangan salah sangka, tante saya sangat dekat dengan Vilip. Vilip menunggui tante saya tiap pulang kantor, bermain kejar-kejaran, disisiri dan makan dari tangan tante saya. Tapi tante saya tahu menanamkan nilai-nilai pada anjingnya, dan Vilip tahu ketika tiba waktunya ia harus didisiplin, menghukum dirinya sendiri dengan masuk kandang.

Jika anjing saja perlu diajar, apalagi manusia… kalau anjing saja bisa didisiplin, masa manusia tidak bisa?

Boom A dan G itu penyakit… disiplin anak Anda, atau diri Anda sendiri jika Anda memilikinya.

Advertisements