Salah satu bahan perdebatan saya dan teman saya adalah mengenai manusia yang tidak bisa dimanusiakan, perlu sistem untuk mengaturnya, dimana sistem itu sendiri dibuat oleh manusia yang memiliki wewenang atau otoritas lebih tinggi.

Awalnya saya menilai itu sebagai pandangan yang kejam. Manusia ditempatkan sebagai mahluk rendah oleh manusia lain yang punya otoritas. Namun kemudian saya melihat begitu banyak kekacauan yang terjadi jika tidak ada sistem yang mengatur manusia.

Saya geli ketika mendengar mama saya berkata, “gila ya, orang kok diatur sama lampu”. Mama mengatakannya ketika suatu kali terjadi kekacauan lalu lintas karena lampu yang mati. Lampu itu adalah bagian dari sistem yang mengatur manusia.

Teman saya selalu bilang bahwa Singapura menjadi negara yang maju karena sistem kuat yang mengaturnya (beliau marketing ISO 9000, tidak heran jika sistem adalah salah satu yang diimaninya), sistem itu adalah denda. Manusia dianggap mahluk yang hanya dapat berbudaya jika diancam.

Bagaimana jika orang Singapur kemudian ke Indonesia, melihat sampah berserakan di mana-mana, budaya antri cuma berlaku di kalangan bebek, belum lagi orang-orang yang menerobos lampu merah dan menyeberang jalan sembarangan dan semuanya tanpa resiko denda… Menurut teman saya, orang Singapur itu ada kemungkinan besar menjadi seperti orang Indonesia.

Di negara ini, Anda tidak akan mendapat giliran jika nekad antri, akan mengantongi atau memegang sampah cukup lama hingga menemukan tempat sampah, dan tidak akan mendapat bagian jika mengalah. Banyak aturan, tapi tidak ditegakkan.

Pada dasarnya manusia ini mahluk egois. Tanpa sistem, manusia hanyalah mamalia tidak berbudaya yang mementingkan diri sendiri.

Tapi, apakah benar begitu?

Bagaimana dengan negara maju lainnya, Amerika yang sibuk atau negara-negara Eropa yang mempesona? Amerika tidak memberlakukan denda untuk negaranya segila Singapura. Walau ada beberapa bagian kumuh, tapi Amerika adalah negara impian setiap orang untuk hidup. Mereka tidak percaya ISO, tapi mereka maju… kenapa?

Restoran seperti pizza hut di Amerika saya kira tidak mengharuskan pegawainya untuk menghafalkan greetings sehingga terdengar seperti robot bicara. Mereka memberi greetings karena itu kebiasaan mereka. Kenapa di negara ini pramusaji pizza hut tidak lebih dari robot penyambut tamu yang memaksakan diri untuk tersenyum?

Ironisnya, Amerika adalah negara di mana nenek moyangnya duluuuu merupakan buangan dari Eropa, kebanyakan bukan orang baik-baik, penuh kekerasan, perbudakan, pemabuk…Tapi saat ini mereka mengenal betul budaya dan tata krama.

Indonesia berasal dari nenek moyang yang sangat mengerti adat dan tata krama. Budaya keraton dan kerajaan melekat dalam diri mereka. Tapi saat ini… lihat saja sendiri.

Mengapa bisa begitu?

Apakah tekanan menjadi jawaban? Apakah mereka mendapat tekanan lebih besar dari kita? Tidak!!! Bangsa kita pun cukup mendapat tekanan dengan penjajahan selama 3,5 abad. Tapi bukannya keluar sebagai emas murni, makin lama mentalitas bangsa tidak makin baik.

Lalu apa sebabnya?

Saya kira jawabannya adalah “karena mereka menatuh perhatian pada hal-hal kecil yang menyangkut kemanusiaan”. Kita mundur ke tahun 1746, dimana seorang remaja 14 tahun yang akhirnya menjadi bapak negara menulis “rules of civility”, yang kemudian dikenal dengan “rules of good behavior” (aturan untuk bersikap baik).

Dalam aturan itu remaja tersebut, George Washington muda, menuliskan hal-hal sepele yang ternyata besar sekali artinya, di antaranya: tidak bergerak-gerak ketika ada yang bicara, berdiri ketika orang yang lebih tua berdiri, tutup mulut saat bersin atau batuk, tidak bergumam atau mengetuk-ngetukkan jari di depan orang, ketika seorang narapidana atau yang bersalah dihukum, jangan bersorak-sorai, sebaliknya tetap tunjukkan belas kasihan, dan banyak lagi.

Aturan tersebut kemudian dibukukan dan menjadi budaya negara. Hal-hal sepele yang ketika dilakukan membuat warga negaranya menunjukkan sikap hormat satu dengan yang lain, menjadikan Amerika negara yang berbudaya sampai saat ini.

Kembali ke masalah sistem. Manusia memang membutuhkannya, Tuhan pun menyadarinya, hingga kita diberi kitab suci yang mengatur bagaimana bersikap. Permasalahannya adalah siapa yang menanamkan sistem itu dan bagaimana?

Saya yakin pedoman bersikap baik dari George Washington diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi di dalam keluarga, hingga akhirnya hal itu menjadi budaya bangsa. Bukan sekedar aturan dalam undang-undang di mana yang melanggarnya akan kena denda atau tilang.

Saat ini Amerika mungkin dalam keterpurukan yang cukup dalam, namun mereka tidak berdiam diri. Mereka sedang bangkit…tahukah Anda mereka mulai darimana? KELUARGA!!!!! Mereka sadar bahwa mereka pernah maju karena hal-hal sepele yang ditanamkan dalam keluarga, dan mereka sedang memulainya lagi.

Kuncinya, jangan meremehkan hal-hal sepele yang hanya bisa dibangun dalam keluarga. Buku Letters from Parents adalah kumpulan hal sepele yang saya harap dapat menjadi masukkan orangtua dalam menanamkan budaya baik pada putera-puterinya. Saat ini kami sudah mendapat penawaran harga dari beberapa percetakan, dan berharap minggu depan dapat naik cetak.

Saya mengharapkan doa dari semuanya, untuk Indonesia yang lebih baik.

Advertisements