Memalsukan tanda tangan


Saya akan mengakui sesuatu yang fenomenal. Saya suka memalsukan tanda tangan. Saat diminta memalsukan tandatangan biasanya saya akan mempelajari tanda tangan yang akan dipalsukan, mempelajari guratannya, menebak di mana awal dan akhir guratan itu, melihat di mana penekanan si pemilik tanda tangan. Mempelajari kecenderungan arah tandatangan, kemudian berlatih dan selesailah tanda tangan palsu.

Tunggu dulu, saya memiliki syarat untuk orang yang meminta saya memalsukan tanda tangn, yaitu, saya harus yakin si pemilik tanda tangan mengetahui bahwa tanda tangannya dipalsukan. Terdengar musahil? Sebenarnya tidak. Misalnya saja si empunya tanda tangan berada di luar kota dan dia harus menandatangani sebuah dokumen penting. Dia tidak bisa datang dengan segera untuk menandatangani dokumen itu, dan dokumen itu pun tak bisa menunggu dia kembali dari luar kota, atau tidak bisa dikirim karena pertimbangan waktu.

Setelah mempelajari dokumen apa yang harus saya tanda tangan dan memastikan bahwa saya tidak sedang terlibat dalam sebuah tindakan kriminal, saya pun menandatangani dokumen itu.

Hari ini, saya dimintai tolong menandatangani sebuah dokumen lagi. Sebuah perjanjian senilai 4 Miliar yang melibatkam seorang suami yang kepepet hutang. Dia membutuhkan dana itu cair secepatnya, tapi dia mengatur hingga nama yang harus ditandatangani adalah nama isterinya. Beliau meminta teman kerja saya untuk menyampaikan permohonanminta tolong ini pada saya (wah, saya jadi merasa seperti bos mafia saja).

Mengetahui bahwa isterinya tidak mengetahui hal ini, dan bahwa sang suami tersebut dengan sengaja tidak memberitahu isterinya, saya menolaknya, bahkan seandainya mendapat upah pun saya tidak dapat melakukannya. Saya katakan saya tidak dapat terlibat dalam “penipuan istri” seperti ini. Mungkin perjanjiannya sendiri tidak salah, tapi menyembunyikan sesuatu yang besar kepada isteri, apalagi menimpakan resiko pada istri jelas-jelas tidak dapat dibenarkan.

Beberapa hal baik dapat menjadi buruk jika kita menggunakan cara yang salah. Kalau saja sang suami ini pergi kepada isterinya dan berunding baik-baik, mungkin masalahnya akan dapat selesai lebih baik daripada yang ia pikirkan. Kalau pun tidak, setidaknya ia telah melakukan hal yang benar.

Saya ingat seorang teman berkata, berbuat baik tidak sama dengan berbuat benar. Saya mungkin mengecewakan temannya teman saya atau teman saya, tapi saya memilih mereka kecewa daripada saya melakukan sesuatu yang jelas-jelas menentang hati saya dan berpotensi menyakiti hati seorang istri.

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s