Saya baru baca tulisan saya setahun yang lalu. Di situ saya menuliskan  bahwa saya ingin sekali menulis buku saya sendiri. Menulis menjadi hobby saya sejak 2009 yang saya salurkan di sini dan di sini. Tahun kemarin saya memiliki mimpi, ingin menulis buku.

Beberapa orang mengatakan bahwa sekarang ini membuat buku bukan ide yang bagus, mengingat menjamurnya e-book yang berharga sangat murah menjurus gratis. Belum lagi begitu banyaknya buku yang dipajang di toko buku. Mereka kuatir saya akan kecewa karena kemungkinan besar buku saya hanya akan menempati pojokan toko buku, tidak dilirik, tidak terjangkau….

Namun, bukan Yoanna Greissia kalau tidak keras kepala. Dengan doa, iman, keyakinan dan kekeras kepalaan, saya mencoba memperjuangkan impian saya. Ada dua draft buku yang sudah terselesaikan, di mana saya harus memilih satu diantaranya untuk ditangguhkan hingga tahun depan karena pertimbangan keterbatasan dana dan tenaga.

Setelah melalui proses pemikiran yang mendalam, akhirnya saya memutuskan saya akan merelease “Letters from Parents”, kumpulan nasihat orangtua. Buku yang ditujukan untuk orangtua walau kelihatan dari judulnya seperti untuk anak-anak.

Ketika mulai menjalankan proyek ini, saya tidak sadar sedang mewujudkan impian saya tahun lalu sampai saya melihat tulisan saya tahun lalu. Seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa Tuhan menaruhkan mimpi pada anak-anakNya. Saat ini saya berharap bahwa apa yang sedang saya jalani adalah mimpi yang Tuhan taruhkan pada saya.

Seringkali kita melupakan impian kita begitu saja hanya karena orang lain mengatakan kalau itu ide gila dan absurd. Beberapa kali saya membatalkan impian-impian saya, sampai beberapa bulan yang lalu saya berpikir bahwa, “mungkin saya tidak cukup keras berusaha”, atau “mungkin saya kurang menunjukkan kesungguhan saya”, hingga akhirnya saya memutuskan mengumpulkan tulisan saya, membuat layout dan menyusun buku ini.

Saat ini saya memang belum tahu apakah buku ini akan ditetima baik oleh masyarakat atau tidak. Tapi setidaknya saya sudah menjalankan bagian saya dalam mewujudkan mimpi itu. Sisanya, saya yakin Tuhan yang akan menyelesaikannya.

Saya sering bilang ada perbedaan tipis antara mengambil risiko dan nekad. Bahkan nekad pun memiliki risikonya sendiri. Saat ini proses layout sudah selesai. Kami sedang memproses untuk pembuatan film untuk cetakan sambil meminta penawaran dari beberapa percetakan.

Dengan segala kerendahan hati saya memohon doa dari pembaca semua. Tuhan yang telah memulai, saya hanya perpanjangan tanganNya. Biar Dia yang akan menyelesaikannya dengan gemilang.

Tahukah Anda bahwa Tuhan juga menaruhkan mimpi pada setiap orang. Anda bisa mengetahuinya karena Dia menaruhkan passion, dan gairah yang begitu hebat dalam diri Anda, juga talenta ketika Anda merasa sanggup melakukannya. Impian seperti itu layak diperjuangkan, jangan menolaknya sebelum kesempatan itu berlalu dan pergi.

Ada begitu banyak orang di muka bumi. Jika Anda memutuskan untuk berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, talenta itu akan diambil dari Anda dan diberikan pada orang lain.

Anda mungkin bilang, “tapi orang-orang itu bilang kalau impian saya tidak mungkin…”. Hamba yang direnggut talentanya pun dapat memberikan alasan serupa, “orang-orang itu bilang…”. Tapi Tuhan melihatnya sebagai “kemalasan”.

Apa impian yang Tuhan berikan? Ingat, mereka layak diperjuangkan!!

Advertisements