Masih ingat Blackberry teman saya yang hilang? Yang saya ceritakan kemarin? Ternyata dugaan saya salah. Beberapa hari yang lalu saya sempat menduga kalau teman saya tidak akan mendapat blackberrynya kembali. Ternyata kemarin si pengambil mengembalikan HP temen saya. (Kami ga jadi taruhan karena memiliki pendapat yang sama tentang hal ini).

Tidak banyak yang bisa dibahas dari sebuah kisah indah dengan happy ending kan. Tapi saya coba menjelaskan sedikit kronologis ceritanya.

Kemarin pagi, saya iseng mem-ping bbm teman saya itu. Ternyata nyambung sekitar jam 11 dan dijawab “ya” oleh orang yang bersangkutan. Setelah percakapan yang tidak terlalu panjang, akhirnya diputuskan bahwa dia dan teman saya akan bertemu di suatu tempat untuk mengembalikan HP itu. Siangnya teman saya menemuinya, dan mendapat kembali HPnya. Selesai.

Apa? Kaya cerita anak SD? Hahaha, mungkin sedikit mendidik, sedikit menghibur dan sedikit menginspirasi…bagaimana jika cerita bahagia yang ini… (mudah-mudahan lebih mendidik, menghibur dan menginspirasi)

Karena berbicara tentang kejujuran, saya teringat pada seorang pramusaji di rumah makan tempat saya memberikan konsultansi. Ceritanya di suatu hari minggu yang cerah (karena belum musim hujan saat itu), serombongan bapak dan ibu pulang dari gereja mampir ke rumah makan itu untuk makan siang. Mereka berasal dari ekonomi atas, dan rupanya mengenal pemilik rumah makan itu dengan baik, karena sang pemilik memutuskan untuk memberi diskon 100 persen pada mereka, dengan kata lain, mereka tidak perlu membayar.

Karena mereka baru pulang dari gereja dan mendengar kotbah lebih baik memberi daripada menerima (ngga ding, mana saya tau kotbahnya apa), mereka menolak untuk digratiskan. Namun pemilik rumah makan keukeuh. Karena malu harus berantem di sana, akhirnya tamu-tamu itu memiliki ide brilian, mereka memasukkan sejumlah uang yang cukup besar, sekitar 600.000 rupiah ke dalam tempat sendok dan garpu tanpa sepengetahuan si pemilik.

Di rumah makan itu ada kebijakan, bahwa uang tip yang ditinggalkan tamu di meja akan ditaruh di kotak untuk dibuka di akhir tahun dan dibagikan ke karyawan. Jadi, 600.000 rp itu statusnya mulai membingungkan, apakah dimaksudkan sebagai uang tip atau pembayaran. Kalau dianggap sebagai tip maka akan masuk ke kotak tip, sedangkan kalau masuk sebagai pembayaran akan masuk ke mesin kasir.

Setelah tamu makan, tugas pramusaji untuk membersihkan meja. Seorang asisten pramusaji (masih status percobaan karena belum 6 bulan bekerja), menemukan uang itu, tanpa pikir panjang langsung menghadap pemilik rumah makan dan berkata, “pak, ini ada uang di meja teman bapak tadi. Dimasukkan ke dalam tempat sendok”. Bagaimana pendapat Anda? Dia bisa saja memasukkan uang itu ke kantongnya sendiri, atau ke kotak tip, tapi dia memilih untuk memberikannya pada pemilik.

Tidak sampai sebulan setelah kejadian itu, saat yang bersangkutan sedang bertugas, datanglah pengantar klapeertaart yang biasa di taruh di chiller (klapeertaartnya, bukan pengantarnya). Entah karena permintaan si penjual klapeertart, atau ide siapa, yang bersangkutan diminta menaikkan chiller tempat klapeertaart ke atas meja khusus, agar terlihat oleh pengunjung. Tak ada yang membantunya atau mengawasinya, sehingga tanpa sengaja ia menarik kabel TV LCD 42 inch seharga lebih dari 4 juta hingga Lcd yang ditaruh di tiang (semacam untuk ring basket) itu jatuh dan rusak parah.

Saat itu pemilik baru saja pergi untuk keluar sebentar karena ada urusan. Saat pemilik kembali, ia langsung diberitahu mengenai kerusakan LCD itu, kemudian memanggil yang bersangkutan dan supervisor yang bertugas untuk mendapat cerita selengkapnya. Pramusaji yang bersangkutan mengatakan bahwa itu sepenuhnya salahnya dan bukan salah supervisornya. Percakapan singkat itu akhirnya membuahkan hasil bahwa kesalahan terletak pada 2 pihak, yaitu manajemen (yang tidak memasang tv pada bracket, sehingga memang rawan jatuh) dan pihak karyawan yang lalai. Pihak karyawan sendiri dibagi dua, yaitu supervisor dan yang bersangkutan. Namun atas permintaan yang bersangkutan dan kemurahan hati pemilik,supervisor dibebaskan dari kewajiban mengganti.

Pramusaji yang bersangkutan akan mengganti dengan cicilan gaji berapapun kesanggupannya sampai jumlah tertentu. Pada saat gajian, pemilik kaget karena yang bersangkutan membayarkan sepertiga gajinya kepadanya.

Mengingat apa yang ia lakukan dengan 600.000 rp, dan niat baiknya mengganti, maka setelah cicilannya lunas (5 bulan ia memberi sepertiga gajinya), pemilik memutuskan untuk mengembalikan semua uangnya kepadanya. Awal bulan November yang lalu pramusaji ini mendapat hadiah kejujuran dan ketulusan hatinya. Menangis setelah menerimanya, dan menunjukkan prestasi kerja yang luar biasa.

Atasannya mencatat kebaikan dan kejujuran yang ia lakukan, sama seperti Tuhan menghargai tiap hal baik yang kita perbuat. Tidak pernah rugi berbuat baik… give, and it will comeback to you…!!

Ps: memang menyenangkan membaca kisah-kisah yang positif seperti ini, bukan? Tapi jika kita menunggu kisah positif untuk menulis atau mengambil pelajaran darinya, maka kemungkinan besar blog ini akan kosong, atau kita mungkin belajar sedikit sekali. Bahkan orang-orang farisi pun dijadikan materi pembelajaran oleh Yesus…

Advertisements