Ngomong kemana-mana


Saya teringat pernah bicara dengan anak teman saya yang sudah SMP. Saat itu teman saya baru marah besar pada anaknya hingga memukul anaknya itu dengan buku. Saat itu anaknya diminta belajar, tapi mengalami kesulitan konsentrasi hingga bermain robot-robotan.

Anak ini menangis dan pergi ke WC untuk membasuh mukanya. Kembalinya dari WC, dengan seijin teman saya, saya berbicara dengan anaknya sambil mencoba membantunya belajar sementara teman saya ini meninggalkan kami. Saya tanya pada remaja ini, “apa kau sakit hati tadi dipukul?”

Jawaban anak ini membuat saya kagum, “tidak. Saya tahu saya salah dan pantas dipukul.”

Saya tanya lagi, “apa yang membuatmu sakit hati?”

Jawabannya “jika mama mengungkit-ungkit masa lalu atau masalah lain yang ga ada hubungannya sama kesalahan saya yang ini.”

Saya paham benar dengan apa yang dikatakan remaja ini. Seringkali ibu-ibu tidak dapat mengendalikan lidahnya untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu atau masalah lain ketika dirinya sedang kesal dan marah karena suatu hal.

Saya baru-baru ini juga mendengar masalah yang sama. Seorang ibu yang kesal dengan keponakannya karena sebuah masalah sepele menjelek-jelekkan, menggosipkan, bahkan menyampaikan berita tidak benar mengenai keponakannya tersebut.

Seringkali kita seperti mama remaja ini atau ibu tadi. Di saat matahari sudah tenggelam ratusan kali kita masih saja mengungkit kesalahan masa lampau tanpa solusi yang jelas.

Buat saya, masa lalu adalah suatu pembelajaran. Itulah kenapa saya tuliskan di diary saya. Masa lalu bukan untuk digosipkan atau diungkit-ungkit untuk menimbulkan sakit hati dan rasa putus asa dari orang lain.

Buat saya rasa kesal atau marah adalah suatu alarm penanda bahaya bahwa sesuatu telah terjadi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah introspeksi dan memperbaiki diri, menahan mulut untuk tidak mengatakan apapun di luar konteks kekesalan saat itu.

Saya beri contoh. Misalkan seorang ibu kesal pada temannya yang lebih baik dari dirinya dalam segala hal. Suatu saat ibu ini melakukan kesalahan dan temannya ini menegurnya. Jika ibu ini bijak, ia akan introspeksi dirinya, berterimakasih, masalah selesai.

Jika ibu ini tidak bijak, dia tidak akan terima dan kemudian mengungkit-ungkit bahkan menggosipkan temannya ini. Dijadikannya momen ini suatu kesempatan untuk menjelek-jelekan temannya. Dibalikannya fakta dan dibuat seolah-olah temannya salah besar pada dirinya.

Sikap bijak atau tidak seseorang dapat terlihat dari bagaimana ia menghadapi masalah. Orang bijak saat mendapat masalah akan mencoba mengerti duduk permasalahannya, membatasi diri pada konteks dan tidak melebar kemana-mana.

Orang bodoh saat mendapat masalah tidak mau mengerti duduk permasalahannya, mencari pembenaran diri dengan mengungkit-ungkit masa lalu dan menggosip, melebar kemana-mana.

Saya teringat orang bijak pernah berkata
“Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya” (amsal 9:8)

Seorang pencemooh bodoh akan membenci orang yang memperingatkannya… Berbeda dengan orang bijak..

Jika mengambil contoh saya tadi, anak teman saya yang masih SMP itu bijak, ibu-ibu yang marah pada keponakannya atau temannya itu tidak bijak.

Tapi bagaimana jika tidak bisa membedakannya sebelum mengecam (menegur) mereka? setidaknya kita bisa membedakannya setelah mengecam (menegur) mereka, hahaha…

Orang bijak menerima peringatan dan mengasihi yang memberi peringatan. Orang bodoh (pencemooh) menerima peringatan dan membenci yang memberi peringatan…

Saya lagi mikir nih… Apakah saya bijak, atau si pencemooh??

Bagaimana dengan Anda?

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s