Bukan karena hal kecil itu…


Hari ini saya melihat sebuah pemandangan yang menyenangkan di kamar mandi Gold’s Gym. Mungkin bagi orang lain itu adalah hal yang sepele, tapi bagi saya… Itu besar sekali artinya.

Hal “besar” itu adalah di setiap pintu kamar mandi gold’s gym dipasang pengumuman yang melarang tiap anggota untuk menggantungkan handuk sebagai tanda antrian…

Ya ampun!! Ini adalah masalah yang selalu saya angkat pada jam-jam sibuk di Gold’s Gym. Jadi ceritanya, encik2 yang seringkali tidak memikirkan orang lain itu akan menggantungkan handuk di pintu kamar mandi sebagai penanda bahwa sesudah ini gilirannya. Kemudian, bukannya mengantri, mereka malah akan menggosip di ruangan lain, atau malah cekikikan sambil jualan aksesoris.

Saya kesal sekali dengan kebiasaan mereka. Seringkali ketika yang mandi sudah selesai, mereka tetap tidak juga datang, sehingga orang yang benar-benar mengantri merasa tidak enak jika menggunakan kamar mandi yang sudah digantungi handuk oleh encik-encik egois itu.

Suatu kali pernah saya sedang mengantri. Tiba-tiba seorang mahasiswa datang, menggantungkan handuk di kamar mandi yang saya tunggu. Kontan saya yang sudah sekian lama menunggu langsung “mengamuk”, saya katakan “maaf, saya ngantri dari tadi lho. Ini sebenarnya aturannya gimana sih. Kok seenaknya gantungin anduk terus pergi. Jangan egois dong”.

Bagi sebagian orang (sekali lagi), mungkin ini masalah sepele, “aah, cuma masalah handuk saja kok dibesar-besarkan”. Tapi bagi saya ini adalah masalah mentalitas. Saya muak hidup dalam masyarakat di mana orang-orang yang ada di dalamnya egois, memikirkan diri sendiri dan bersikap semau-maunya tidak tahu aturan. Saya muak hidup dalam masyarakat yang membenarkan hal-hal tidak logis terjadi dengan banyak faktor yang dijadikan toleransi. Saya muak menoleransi orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mau berubah selama bertahun-tahun. Saya muak melihat orang-orang bertindak tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.

Jadi, ketika baru saja saya melihat di setiap pintu kamar mandi tertulis pengumuman yang melarang menggantung handuk sebagai tanda antrian, saya merasa itu adalah jawaban doa (agak berlebihan, tapi saya benar-benar senang).

Mungkin benar kata seorang teman, “kamu gak cocok hidup di Indonesia, Greis”. Alasannya, karena saya terlalu blak-blakan menyatakan ketidak sukaan saya ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai aturan. Saya tidak mau menunjukkan sikap seolah-olah saya menyukai hal yang tidak saya sukai… Saya tidak mau menunjukkan sikap seolah-olah melanggar aturan itu adalah hal biasa di negeri ini.

Di negara maju, orang taat aturan, hingga kita dengan mudah dapat menyampaikan keberatan jika ada yang tidak taat aturan.

Di negara kita, orang-orang banyak yang bersikap seenaknya dan tidak taat aturan, ingin selalu mendapat toleransi, hingga sulit sekali menyampaikan keberatan jika ada yang tidak taat aturan atau bersikap seenaknya.

Belum lagi faktor usia yang menyebabkan orang yang sudah berumur tapi tidak tahu diri kebal terhadap hukum dan kebal terhadap teguran. Mereka berkata, “kurang ajar ka kolot” jika tingkah aneh mereka dikomplain. Padahal seharusnya “sang kolot” itu ngaca… Kalau memang sudah berumur kok aneh-aneh sikapnya.

Tapi saya tidak pesimis terhadap bangsa ini. Jika kita yang muda mau menerapkan aturan, bersikap benar, tidak egois dan memikirkan hak-hak orang lain. Tidak segan bersuara ketika terjadi sesuatu yang tidak semestinya, tidak ragu menyampaikan pendapat, maka (walaupun perlahan) kita akan memajukan negara ini.

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s