Perasaan adalah sesuatu yang unik yang Tuhan berikan pada manusia (sebenarnya tidak hanya manusia, bahkan hewan mamalia sejenis gorila dan anjing pun punya).

Manusia bisa merasa marah, sedih, kecewa, kesal, suka dan tidak suka pada seseorang, putus asa, senang, bersemangat dan lain-lain. Kekayaan perasaan ini yang membuat hidup lebih hidup.

Hari ini saya berdiskusi dengan seorang teman tentang perasaan suka dan tidak suka pada orang lain. Bolehkah seseorang merasa tidak suka dengan orang lain? Bagaimana kita menghadapi orang yang tidak suka dengan kita?

Saya kenal dengan seseorang yang tidak terlalu banyak disukai orang lain (kecuali oleh keluarga intinya). Sikapnya aneh, kurang bersahabat dengan orang lain (dengan cara yang aneh tentunya), moody dan sering membuat orang kesal dengan celotehan-celotehan yang absurd, konyol, mengesalkan, tidak masuk akal dan sulit diterima.

Seseorang tersebut sepertinya menikmati predikat tidak disukai tersebut karena dia seperti tidak bisa membendung sikap yang jelas-jelas membuat orang lain kesal (Atau mungkin saja dia tidak sadar jika membuat orang lain kesal).

Sepertinya tak ada yang berani memperingati orang tersebut, termasuk orang terdekatnya, yang mana sangat disesalkan karena hal ini tentunya merupakan potensi terjadinya keributan besar suatu saat jika sikapnya tidak juga berubah.

Suatu saat sikap konyolnya menyinggung orang lain yang lebih muda hingga orang muda tersebut bereaksi. Reaksinya sebenarnya wajar dan tidak kurang ajar menurut saya. Orang muda tersebut tidak memaki-maki, mengata-ngatai atau konfrontasi secara langsung (yang mana menurut saya kalaupun dilakukan orang lain akan maklum). Tidak juga menggosipkan di belakang atau menyemburkan kata-kata kasar.

Beberapa orang (kebanyakan orang) tidak menyalahkan orang muda tersebut, justru dalam hati mendukungnya, karena memang sejak lama kesal dengan orang tersebut. Namun orang-orang kolot (yang jumlahnya sedikit sekali) mengatakan orang muda tersebut kurang ajar mengingat sasaran tersebut jauh lebih tua.

Mengingat orang tersebut dan contoh kasus di atas membuat saya memikirkan beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan.

Diskusi No. 1. Tentang perasaan suka/tidak suka – bagaimana jika orang tidak suka pada kita?

Kita tidak bisa melarang orang memiliki pendapat tentang kita. Tuhan memberi perasaan tidak hanya kepada kita, tapi juga pada orang lain. Kita tidak dapat mengendalikan perasaan orang lain pada kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah perasaan kita dan sikap kita terhadap orang lain.

Kita harus bisa menerima kalau orang tidak suka pada kita. Tapi kita harus berusaha orang menyukai kita. Kalau orang tersebut tetap tidak menyukai kita walaupun kita sudah menjaga sikap, maka itu urusan mereka.

Disuksi No. 2: tentang sikap – bagaimana dengan orang yang cari gara-gara?
Sekali lagi kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan sikap kita. Jangan mencari gara-gara atau melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan syak dari orang lain.

Reaksi berbeda dengan “sikap tidak suka”. Reaksi adalah akibat dari sebuah aksi. Tidak ada reaksi tanpa aksi. Jika orang bereaksi negatif terhadap aksi negatif kita, satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah introspeksi dan berjanji tidak melakukan aksi negatif lagi (introspeksi saja TIDAK CUKUP).

Bagaimana menurut Anda?

Diskusi No.3: Bagaimana dengan orang berumur yang tidak bisa jaga sikap?
Pertambahan umur menunjukkan kematangan karakter seseorang. Syukur kepada Tuhan saya memiliki papa dan mama yang membanggakan di usia tuanya.

Seorang yang semasa mudanya tidak mengasah karakternya akan memiliki perilaku makin aneh seiring dengan pertambahan usia. Perilaku aneh tersebut merupakan aksi yang tidak dapat dipungkiri dapat menimbulkan reaksi negatif dari lingkungannya (termasuk di dalamnya orang-orang yang berusia muda).

Kemajuan teknologi membuat orang-orang muda memiliki pola pikir yang lebih maju (walau ada juga orang muda dengan pola pikir kurang maju). Orang muda sekarang tidak bisa menerima jika di-bully oleh orang yang lebih tua (apalagi bukan orangtuanya), baik dalam hal sikap maupun kata-kata.

Ketika seorang yang sudah berumur tidak dapat bersikap bijak dan menyakiti hati anak muda, apa yang harus dilakukan anak muda tersebut? Di luar negeri mungkin hukuman sosial sudah akan diterima orang berumur tersebut. Sayangnya di Indonesia perasaan sungkan dan tuntutan “hormat” berlebihan seringkali membuat orang-orang berumur yang sejak mudanya aneh malah bersikap makin aneh. Teguran dan reaksi sehalus apapun dari orang muda akan dianggap kurang ajar dan tidak sopan.

Lalu bagaimana orang berumur bisa belajar dan berubah???

Diskusi No. 4: bagaimana jika kita tahu kalau orangtua atau orang terdekat kita aneh dan tidak disukai orang lain?

Papa dan mama saya sering menegur saya akan sikap arogan saya. Saya memang seorang koleris yang seringkali tanpa sadar memiliki sikap arogan dan harga diri terlalu tinggi.

Saya menerima masukan dari mereka dengan senang hati sehingga tiap reaksi saya akan apa yang terjadi di lingkungan benar-benar saya batasi. Bukankah itu inti dari perubahan karakter? Menekan sikap buruk kita?

Bukannya tidak pernah saya juga memberi masukan pada papa dan mama saya. Sekali lagi bersyukur pada Tuhan saya memiliki papa dan mama yang mau menerima masukan saya.

Bukankah inti dari menjaga nama baik keluarga juga berarti saling memberi masukan dan saran baik satu dengan yang lain?

Jadi, hari ini saya belajar banyak… Mudah-mudahan Anda yang mampir dan membaca tulisan ini juga mendapat sesuatu dari apa yang saya pelajari… Atau… Apakah Anda juga pernah mengalami apa yang saya tulis di atas?

Advertisements