Tahukah Anda kalau orang gila dan psikopat pun punya alasan ketika melakukan sesuatu?

Contoh, orang gila yang menggendong-gendong boneka sambil bernyanyi memiliki alasan melakukannya, karena baginya, boneka itu adalah anaknya yang hilang.

Atau, psikopat yang membunuh wanita yang suka berdandan dan berpakaian minim, misalnya, melakukannya dengan alasan merasa disuruh Tuhan.

Saya pernah membaca sebuah buku detektif karya penulis favorit saya, Agatha Christie (judulnya saya lupa). Kurang lebih kisahnya ada sebuah pembunuhan yang dituduhkan kepada seorang yang sakit jiwa… Namun sang detektif tidak menemukan alasan apapun yang membuat si pasien sakit jiwa itu membunuh. Detektif itu berkata “bahkan orang gila pun memiliki alasan untuk membunuh, walau alasan yang paling gila sekalipun”.

Akhirnya, terbukti bahwa bukan orang gila tersebut yang membunuh…

Lalu apa yang membedakan orang waras dan orang gila jika keduanya sama-sama memiliki alasan melakukan segala sesuatu? Bedanya adalah: orang waras memiliki alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan, sementara orang sakit jiwa memiliki alasan yang tidak logis dan tidak dapat bertanggungjawab atas perbuatannya. Itulah kenapa banyak pelaku pembunuhan memilih pura-pura gila agar lolos dari hukuman mati.

Orang gila bukannya tidak punya alasan untuk apa yang dilakukannya, namun tidak memiliki alasan LOGIS dan tidak dapat BERTANGGUNGJAWAB atas apa yang diperbuatnya.

Beberapa hari ini, mama uring-uringan, alasannya, di hari Minggu kami dan tamu-tamu dari luar kota mengunjungi seorang kerabat yang baru beberapa hari memiliki cucu. Karena rumah yang tidak terlalu luas untuk menampung tamu yang cukup banyak, maka mama duduk di kursi yang ada di sisi meja tulis.

Ketika saya menghampiri mama, tidak sengaja di atas meja tulis saya melihat undangan adik saya tergeletak. Undangan adik saya adalah buku berisi notes tebal (dapat digunakan) sebesar A5 dengan cover biru yang menggambarkan adik saya dan suaminya duduk di jembatan, di bawah pohon rindang.

Ada yang aneh dengan undangan itu. Di muka depan undangan seharusnya ada foto cantik adik saya dan suaminya saat ini. Tapi di undangan tersebut tidak ada foto adik saya dan suaminya, sebaliknya tempat di mana ada adik saya dan suaminya berganti dengan stiker obat kulit yang tepat menutupi hanya tubuh adik saya dan suaminya saja.

Saya kaget melihatnya, dan terlambat untuk menutupinya dari mama saya yang keburu melihatnya dan langsung berubah mukanya.

Terlihat sekali kekecewaan di wajah mama saya, melihat undangan nikah anaknya ditutupi HANYA bagian tubuh dari sang calon mempelai sementara bagian lain tidak ditutupi stiker.

Pulang dari sana, kami keluarga besar membahasnya. Kira-kira apa yang menyebabkan kerabat dekat kami itu memutuskan menutupi gambar tersebut. Pasti ada alasan, entah itu logis atau tidak logis. Walau saya tidak sanggup menemukan satu alasan logis pun untuk apa yang dilakukan kerabat tersebut.

Besok paginya, mama saya masih uring-uringan. Saya mengatakan pada beliau, jika masih kesal, daripada dipendam hingga tidak bisa tidur sebaiknya ditanyakan langsung saja pada yang bersangkutan.

Dilihat dari sudut pandang selewat, maka yang dihasilkan adalah pemikiran, “sudahlah, hanya benda” atau “hanya undangan kawin saja”, atau “kan sudah dikasih, terserah dong mau dibuat apa” (walau orang lain menggunakan undangan itu untuk notes atau sekedar catatan kecil).

Tapi dilihat dari sudut pandang orang yang menyayangi adik saya, maka yang dihasilkan adalah pemikiran “apa yang salah dengan foto Yovi dan Decky?” Dan “mengapa hanya bagian foto saja ditutupi stiker butut?” Dan “kenapa harus ditutup?”

Jadi, hari itu mama saya benar-benar bertanya pada saudarinya, kenapa undangan di rumah itu harus ditutupi oleh stiker obat kulit. Saudari mama saya menjawab bahwa itu perbuatan suaminya.

Tak lama setelah itu, menurut cerita mama saya, suami dari saudari mama saya meneleponnya untuk menjelaskan, sebuah alasan yang silahkan Saudara nilai apakah logis atau tidak. Pertama dia mengatakan “kami biasa memodifikasi undangan nikah”, kemudian dia meralatnya menjadi “takut dilihat cucunya yang masih di bawah umur (1,5 tahun dan 40 hari)” harap dicatat, tidak ada gambar porno di undangan tersebut.
Sesudah itu dia berdalih “ah, biasanya kami malah membuang undangan-undangan nikah. Sudah bagus undangan itu ga dibuang” (jadi dimodifikasi atau dibuang?)

Setelah telepon itu kemudian kerabat yang bersangkutan menelepon saudari mama saya yang lain untuk membela diri dan mengatakan dia bermaksud menambahkan daun-daunan kering di atas undangan itu sebagai bentuk kreativitasnya (mungkin di atas stiker obat kulit itu).

Baik, kembali ke masalah logis dan tidak logis. Walau sempat kesal, saat ini saya melihatnya dari sudut pandang beberapa paragraf yang saya jelaskan di atas. Orang waras memiliki alasan logis untuk apa yang dilakukannya, sementara orang “kurang waras” memiliki alasan yang tidak logis, dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.

Bukan masalah mengampuni atau tidak, karena ini bukan masalah siapa salah terhadap siapa. Ini masalah “mengapa kerabat saya melakukan hal itu”, apakah dilandasi ketidak sukaan atau bagaimana. Harapan kami, jika mengetahui alasan yang (mudah-mudahan) logis, jika ada kesalahpahaman, dapat diselesaikan. Namun ternyata kami tidak menemukan alasan logis, dan kerabat yang bersangkutan pun tidak dapat menjelaskan alasan yang cukup logis.

So, kalau negara saja memutuskan untuk tidak melanjutkan perkara orang yang kurang waras, saya rasa sebaiknya saya juga tidak.

Melalui kejadian ini saya harap kita dapat belajar beberapa hal (agar tidak dianggap kurang waras)
1. Berpikirlah sebelum bertindak.
2. Pikirkan dampak dari apapun yang akan kita lakukan atau katakan.
3. Tidak perlu melakukan apa yang tidak ada untungnya dan tidak menghasilkan nilai tambah (sebaliknya malah merugikan)
4. Ketahuilah bahwa hal kecil yang kita lakukan bisa berarti besar bagi orang lain, jadi HATI-HATIlah

Orang pintar tahu apa yang harus dilakukan, orang cerdas tahu bagaimana melakukannya, orang bijak mengerti apa yang tidak perlu dilakukan…

Advertisements