Kalau kita jalan-jalan sore di kota, maka salah satu pemandangan yang tidak asing (selain tukang becak dan supir angkot) adalah pemuda berambut merah yang duduk-duduk di pinggir jalan, tidak ada kerjaan. Ada juga yang dengan segala macam cara berusaha meminta uang dari mobil di lampu merah, setengah memaksa bahkan mengancam.

Setiap kita mungkin memiliki pengalaman kurang menyenangkan dengan pemuda-pemuda ini. Saya sering. Mulai dari pemuda yang menyemprot mobil saya dengan parfum dan memaksa meminta uang Rp.500, sampai pemuda yang celetukannya saat orang lewat bikin kesel.

Melihat mereka rasanya sulit sekali membayangkan bahwa tahun 1928 pernah ada sekumpulan pemuda indonesia yang berkumpul dan menjadikan hari itu sebagai hari bersejarah yang diperingati sampai hari ini menjadi Sumpah Pemuda.

Sekumpulan pemuda yang tahu bagaimana mengisi waktunya untuk kemajuan bangsanya. Sekumpulan pemuda yang tahu bagaimana memberi sumbangsih yang berarti untuk tanah airnya.

Sulit sekali membayangkan apa jadinya jika generasi pemuda saat inilah yang hidup di masa itu. Apakah tetap akan lahir hari Sumpah Pemuda? Atau malah terjadi kerusuhan?

Pertanyaan yang mendasar adalah? Faktor apa yang mempengaruhi mentalitas pemuda? Apakah tekanan membuat seseorang lebih kuat dan tahan uji?

Saya rasa memang begitu, tekanan dapat membuat seseorang tahan uji. Jadi, apakah pemuda sekarang kurang mendapat tekanan? Tidak bisa dipungkiri ada juga pemuda yang luar biasa di jaman sekarang, tapi, apakah mereka melakukan hal-hal luar biasa untuk bangsa ini? Dan, pemuda seperti apa yang lebih banyak kita temui?

Akhirnya semua berpulang pada diri kita. Apakah sebagai pemuda kita siap membangun bangsa? Atau merusuhkan bangsa? Hanya kita yang bisa menjawab, dan bertindak.

Advertisements