Kemarin saya diskusi sama teman tentang sebuah lagu yang disiapkan paduan suara untuk natal. Ceritanya paduan suara teman saya sedang menyiapkan operet natal untuk sekolah minggu. Lagu pembukanya teksnya seperti ini:

Ayo cepat, Natal t’lah mendekat
Ada pesta, makanan berlimpah
Baju baru, kado indah, hatiku bahagia
Ulang tahun Tuhan Yesus yuk kita bersuka

Ketika mendengar teman saya menyiapkan lagu tersebut, saya langsung bilang “wah, sesat tuh lagu”. Sebagian Guru Sekolah Minggu yang membaca tulisan ini mungkin bisa mengerti kenapa saya mengatakan hal tersebut, sebagian mungkin tidak mengerti dan santai-santai aja. Untuk yang tidak mengerti, akan saya jelaskan di sini kenapa saya mengatakan itu sesat.

Sebagian orang mungkin mengatakan saya terlalu kritis, kurang kerjaan mengurusi urusan yang tidak penting dan hal-hal negatif lainnya. Untuk sebagian orang tersebut saya mau mengatakan bahwa saya tidak peduli, saya tetap akan menjelaskan kenapa saya mengatakan lagu tersebut sesat.

Sebagian lagi mungkin mengatakan “ada lanjutannya mungkin…”. Tidak, tidak ada lanjutan lagu itu. Selesai di situ!

Baik, saya akan mengemukakan beberapa alasan saya mengatakan lagu itu sesat (jika memang penjelasan ini masih diperlukan) Lepas dari “apakah natal perlu dirayakan atau tidak”, atau “apakah natal berasal dari agama pagan atau bukan”

1. Anak-anak menangkap informasi yang ada di sekitarnya dan mengubahnya menjadi persepsi. Dengan kata lain, usia anak-anak adalah usia emas di mana mereka menyerap segala sesuatu dari sekitarnya dan menganggapnya sebagai kebenaran, apalagi jika itu menyenangkan. Bayangkan ada 30 anak paduan suara yang terus menerus melatih lagu itu dan menganggapnya sebagai kebenaran, dan ada ratusan anak yang mendengar lagu tersebut dan mengamininya. Apa jadinya? Ketika anak-anak ditanya, “apa itu natal?”. Jangan heran kalau mereka menjawab “Pesta, kado, baju baru, makanan berlimpah”

2. Kisah Natal akan dianggap sebagai dongeng, apalagi jika lagu tersebut disimpan sebagai lagu pembuka. Iming-iming natal adalah (sekali lagi) “pesta, kado, baju baru, makanan berlimpah”. Setahap lebih bagus adalah jika anak dapat menjawab bahwa natal adalah “hari lahir Tuhan kita”. Cobalah tanyakan satu pertanyaan mendasar lagi, “kenapa Tuhan harus lahir ke dunia?”. Apakah mereka akan bisa menjawabnya? Saya harap mudah-mudahan mereka bisa.

3. Apa bedanya gereja dengan Harry Potter? Dalam kisah Harry Potter Natal identik dengan pesta besar, makanan berlimpah, hadiah, dan pakaian baru. Lalu, jika lagu itu diijinkan dinyanyikan di acara natal anak-anak kita, apa bedanya natal gereja dengan natal pagan?

4. Apakah tujuan anak-anak ke sekolah minggu selama setahun penuh adalah supaya pada acara natal mereka dapat kado? Saya sering mendengar Guru Sekolah Minggu bicara pada anak-anak Sekolah Minggu, “ayo ke gereja supaya kalau natal dapat hadiah.” Lagu itu ditambah kata-kata yang diucapkan setahun penuh akan makin memperparah persepsi anak-anak tentang peristiwa dimana  Tuhan yang besar melakukan inkarnasi menjadi manusia.

Pertanyaan saya berikutnya (khusus ditujukan untuk Guru Sekolah Minggu), apa yang menjadi fokus natal di Gereja Anda? Apakah panitia kado lebih sibuk dibanding panitia acara? Apakah yang membeli dan menyiapkan kado lebih sibuk daripada yang berkotbah? Apakah rapat natal membahas tentang kado dan bukannya bagaimana menjangkau anak-anak dengan injil? APA PERSIAPAN NATAL DI SEKOLAH MINGGU ANDA?

Momen Natal yang berbahagia adalah momen yang tepat untuk mengajar anak tentang peristiwa dimana Tuhan menepati janji-Nya, bahwa Tuhan Sang Pencipta, karena keadilan-Nya tetap menghukum dosa, namun karena kasih-Nya memutuskan untuk menjadi manusia dan menyiapkan rencana penghukuman dosa itu untuk diri-Nya sendiri.

Momen Natal adalah momen yang tepat untuk menantang anak-anak menerima Kristus hadir dalam hidup mereka.

Advertisements