Jadi Apa Saya Nanti


Dulu saya bingung kenapa orang-orang yang lebih tua suka marah-marah. Guru-guru suka marah, orangtua suka marah. Sekarang, saya merasa sangat mengerti. Beberapa hal juga membuat saya kesal, bahkan terkadang marah.

Saya merenung, apa yang membuat saya kesal dan kadang marah. Rupanya untuk orang seusia saya, dan mungkin juga lebih tua, ada beberapa hal yang menjadi prinsip. Saat prinsip itu dilanggar, maka saya dan yang lain juga menjadi marah.

Hal yang paling membuat orang seumur saya marah adalah ketika otoritasnya dipertanyakan, tidak dihargai, dirugikan, dan aturan tidak ditegakkan.

Kemarin saya baru saja marah ketika ada bus menurunkan penumpang di depan BCW, pintu masuk untuk ke kantor saya. Bus itu berhenti lama sekali hingga saya tidak bisa masuk, sebaliknya, mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klakson.

Saat saya juga ikut membunyikan klakson, saya dihampiri oleh satpam dikatakan agar “sabar dong” dan juga ada beberapa ibu-ibu marah karena merasa saya “tidak sabar”. Padahal saya sudah menunggu cukup lama.

Aturannya, tidak boleh berhenti di depan jalan masuk itu karena akan membuat macet dan menghalangi pintu masuk. Tentu saja saat itu saya marah besar. Setelah saya berhasil masuk, saya marah pada satpam depan BCW karena tidak bertindak tegas.

Ya, usia dewasa muda adalah usia di mana kita mulai mengerti prinsip dalam hidup. Yesus memulai pelayanannya di usia 30 (wow, sama spt saya saat ini). Dalam usia tersebut, Yesus tidak “mudah marah”, tapi yang jelas Dia tahu prinsip-prinsip dalam kehidupan. Saat itu dilanggar, Dia marah.

Tapi pertanyaan mendasar adalah “apakah prinsip-prinsip itu?”. Apakah sekedar “tidak disapa bawahan” adalah prinsip yang membuat kita marah. Seorang dewasa tahu apa prinsip-prinsip yang memang penting dalam hidup.

Tapi siklus hidup manusia memang aneh. Setelah masa kanak-kanak yang identik dengan kesenangan dan kenaifan, masa remaja yang identik dengan pemberontakan, masa pemuda yang identik dengan kesuksesan dan masa dewasa yang identik dengan prinsip dan kesuksesan. Tibalah kita pada tahap usia emas yang penuh kebijaksanaan.

Masa usia tua di mana manusia tidak lagi didengar, merasa kehilangan kekuasaan, beralih menjadi penasihat, lambat untuk marah, dan mungkin sebagian merasa “hidup memang seperti ini, aku tahu segalanya, tak ada yang dapat dilakukan”

Di tengah-tengah perenungan saya saat ini, saya berpikir mengenai diri saya. Apakah anak-anak remaja melihat saya seperti saya memandang guru-guru saya dan orang yang sudah dewasa lain saat saya remaja, yaitu “tidak sabaran dan suka marah-marah”

Akan jadi seperti apakah saya di usia emas saya nanti?

Benar kata orang bijaksana. Jadi apa kita nanti, ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini.

Saya tidak mau jadi orangtua yang “post power syndrom”, merasa kekurangan penghargaan, apatis terhadap kehidupan, tidak dihargai karena cerewet…

Saya rasa, saya harus memikirkannya dari sekarang…

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s