Coba nyetir siang-siang di kota Bandung, kalian akan tergoda ingin memaki…

Memaki tukang becak yang ngelawan arah, memaki orang-orang yang naek becak supaya bisa ngelawan arah, memaki motor yang nyelip-nyelip sembarangan, memaki angkot yang jalan dan berenti seenaknya…

Lucunya, orang-orang yang jelas-jelas (menurut saya) patut dimaki itu suka memaki duluan. Saya pernah menyetir di jalan satu arah, otista… Di jalur kanan karena akan menyusul angkot. Tau-tau dari arah berlawanan muncul becak yang melawan arah, marah-marah karena menurut dia, saya sudah mengambil jalur dia.

Menurut saya, lebih sulit memahami orang bodoh daripada orang pintar. Mengapa saya bilang orang bodoh lebih sulit dipahami dari orang pintar, berikut ini alasannya:
1. Orang pintar memiliki alasan yang masuk akal dalam melakukan segala sesuatu, orang bodoh melakukan segala sesuatu untuk kepentingan mereka sendiri, mau-maunya sendiri “karena saya maunya begitu” atau “tidak memiliki cara lain melakukannya”.
Dengan kata lain, orang bodoh bertindak ga pake otak.
2. Orang pintar bisa dikasih tau kalau salah, orang bodoh engga bisa. Ngasih tau orang bodoh itu nyaris sia-sia karena mereka tidak mengerti atau tidak mau mengerti letak kesalahan mereka.
3. Standar orang bodoh itu engga jelas. Kebayang ga kalau orang bodoh yang nentuin standar? Boleh tidak boleh jadi rancu, bagus atau jelek juga ngga jelas.

Saya akan tutup dengan satu ayat yang keren :
“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak” (ams 12:15)

Advertisements