Berbicara tentang sekolah minggu adalah berbicara tentang salah satu institusi yang ikut ambil bagian dalam pelayanan anak.

Kemarin saya mengunjungi salah satu sekolah minggu di kota Bandung. Melihat guru SM rasanya kasihan sekali. Sepertinya bagi mereka, satu setengah jam di hari Minggu adalah “waktu yang harus cepat-cepat dilalui”. Tidak ada lagi perasaan “menikmati pelayanan” di dalamnya.

Gimana ngga, saat pujian semua anak diam, tidak mau menyanyi… mungkin karena mereka tidak mengerti kenapa harus menyanyi, atau mungkin juga bagi mereka nyanyian sekolah minggu diiringi gitar itu membosankan. Mungkin mereka tidak tahu artinya Memuji Tuhan.

Saya terkejut ketika berada di kelas besar yang hanya berisi 3 anak saja. Satu anak sejak awal selalu mendebat apa yang diajarkan gurunya “menurut saya ga gitu ah”, atau “masa sih harus begitu” dan “orangtua saya aja ga pernah kasih yang terbaik buat saya, kenapa saya harus memberi yang terbaik buat orang lain”. Bagi saya ini adalah komentar luar biasa dari seorang anak yang ‘menyimak’ pelajaran.

Jaman sekarang ini, teknologi dan kemajuan industri makanan dan gizi membuat anak-anak memiliki pemikiran dan keberanian yang luar biasa. Jaman dulu anak-anak memiliki bahan debat tapi menyimpannya dalam hatinya saja. Jaman sekarang, anak-anak berani menyampaikannya dengan lugas.

Yang mengherankan, anak ini seperti terjebak dengan kenakalannya sendiri…tiba-tiba ia menangis karena sedih mengingat bahwa ia merasa orangtuanya ga sayang sama dia karena tidak memberikan apa yang dia mau.

Lalu pertanyaannya, apa yang harus dilakukan GSM? atau lebih umum, apa yang harus dilakukan pendidik?

Ini PR berat buat kita

Advertisements