Part 7: Cinta itu Petualangan

Kalimat “tapi kan seharusnya“ sama saja dengan “Andai saja…”, hanya saja kali ini aku yang mengucapkannya… Setiap kali mengingat keputusanmu dalam sepuluh tahun ini, hatiku (mungkin tepatnya egoku) tak terima… dan berkata “tapi kan seharusnya”

Aku tak terima ketika kau, yang mengatakan mencintaiku, untuk sekejap memunggungiku, padahal aku sendiri yang menjauhkanmu… dasar si aku wanita tak tahu diri.

Aku tak terima jika ada yang lain, padahal aku sendiri yang membuatmu berada di situasi itu, kau tak memiliki pilihan…aku menghancurkan satu-satunya pilihan yang kau punya saat itu.. aku memang egois.

Namun seperti yang telah kita berkali-kali ucapkan, sayang… tak ada gunanya menyesali apa yang lampau. Aku bergelut dengan diriku, menghilangkan kalimat “tapi kan seharusnya…”. Dan bukankah kita sepakat memulai babak baru, kau dan aku… tanpa gengsi, malu dan ragu.

Aku akan melakukan apa yang tak berani kulakukan saat itu. Menghadapi apa yang tak berani kuhadapi saat itu, dan membuat keputusan benar kali ini… memulai babak baru, bersamamu.

Kata “maaf” memang mudah diucapkan, dan “aku memaafkanmu” pun sama. Tapi tak sakit hati ketika mengingat apa yang lampau, tak menjadi pahit hati ketika menerima apa yang terlanjur terjadi… jauh lebih sulit untuk dilakukan. Sayang, kita akan menghadapinya dengan berani, bukan? Melupakan sakit hati dan kepahitan, supaya bisa maju ke depan.

Aku baru mendengar bahwa “cinta itu petualangan.” Andai saja aku mendengarnya lebih awal. Andai aku mendengarnya 12 tahun yang lalu,… ketika keraguan pertama kali muncul. Aku tentu akan menghadapinya dengan antusias… bertualang bersamamu, seperti yang akan kita lakukan sekarang.

Part 6: Menghabiskan masa tua

Kamu masih berkali-kali berkata andai kita tak berpisah, andai kita bisa menghabiskan masa muda bersama, andai kita bisa menjelajahi negeri ini bersama, andai kita bisa bertualang bersama, dan banyak andai lainnya…

Kemudian aku menjawab “seandainya kita tak berpisah…akankah kita tetap memiliki perasaan ini?” Kamu termenung sejenak, kemudian mengangguk dengan kuat “masih”

Masalahnya sayang, dengan egoku saat itu, dan dengan kebaikan hati yang menutupi egomu juga… mungkin kau pun tak akan tahan. Ada banyak pembentukan yang kita lalui selama satu dekade ini.

Masalahnya sayang, jika kita tetap bersama, tanpa apa yang telah kita lewati masing-masing selama 10 tahun ini, mungkin aku mempertahankan egoku, dan gengsimu sebagai pria, cepat atau lambat mungkin tak terbendung…

Tapi itu hanya mungkin…ya hanya mungkin… karena tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi masa lalu jika suatu peristiwa dibatalkan atau ditambahkan… karena apa yang sudah terjadi, tak akan bisa diandaikan tak terjadi. Demikian juga apa yang tak terjadi, tak bisa diandaikan jika terjadi.

Karena semuanya hanya kemungkinan, maka berandai-andai tak ada gunanya…

Namun aku bisa mengatakan ini… kita mungkin tak bisa menghabiskan masa muda bersama, tapi kita mungkin bisa menghabiskan masa tua bersama…. Tapi “mungkin” yang ini dapat kita realisasikan jika kita memiliki tekad…karena semuanya belum terjadi.

Sayang, kita tak dapat mengubah apa yang telah kita lewati sebagai bagian dari konsekuensi yang telah kita jalani… kita terpaksa menerima kenyataan bahwa kita tak menghabiskan masa muda bersama. Tapi, kita masih punya waktu… kita masih punya kemungkinan yang dapat kita wujudkan kalau Sang Pencipta mengijinkan… kita masih punya kesempatan menghabiskan masa tua bersama…

Part 5: Dalam Satu Dekade Ini

Terlepas dari apa yang terjadi pada kita, sayang… dalam satu dekade ini kita tak saling memiliki. Kau tak ada dalam hidupku, begitu pun sebaliknya.

Aku ingat pesan terakhirku padamu. Well, seharusnya menjadi pesan terakhir, namun ternyata setelah itu masih ada beberapa pesan lagi. Kau mencoba untuk merajut kembali, dan situasi menjadi tak terkendali, lebih parah dari sebelumnya. Ah, seharusnya pesan itu menjadi pesan perpisahan yang cantik

Pesan terakhirku terbungkus kalimat yang sangat manis. Aku mengatakan bahwa setiap manusia memiliki panggilannya masing-masing. Panggilan yang indah dan mungkin kita berdua memiliki panggilan berbeda di jalur yang berbeda.

Dalam surat itu aku mengharapkan yang terbaik. Percaya pada kepintaran dan kebaikan hatimu bahwa kau dapat mewujudkan impianmu, tanpa aku di dalamnya. Aku meminta kau berbahagia, tanpa aku.

Aku katakan bahwa aku percaya padamu, seorang yang berhati mulia dengan integritas tinggi (Kau kemarin bertanya, jika aku berpikir begitu, kenapa aku memintamu pergi…)

Dalam satu dekade ini, kita memang tidak saling mengisi kehidupan masing-masing, sayang. Sesekali kita berusaha saling mengontak. Aku mengirimimu ucapan selamat ulangtahun, yang tak pernah kau balas, kau pun demikian (aku bahkan baru menemukan email ucapan selamat ulangtahun darimu, yang sepertinya tak pernah kubuka, apalagi balas.)

Kau bilang beberapa kali menghubungiku, tapi sepertinya semesta membajak semuanya. Aku tak pernah menerima pesan-pesanmu. Kau bilang (bahkan dengan bukti), aku mengirimimu nomor telepon yang selalu membalas dingin sms saat kau hubungi. Nomor telepon yang ketika kulihat bahkan aku lupakan.

Dan ada banyak hal yang mencegah kau datang padaku… terlalu banyak hal yang membuat kita tak dapat bersama lagi dalam satu dekade ini.

Apa namanya jika bukan semesta membajak hubungan ini? Ah, aku tahu…mungkin memang belum waktunya Tuhan. Mungkin Tuhan sendiri tak mengijinkan kita bersama saat itu.

Kita berdua masih meneteskan air mata, setiap kali mengingat… bahwa kita tak ada dalam sejarah hidup orang yang paling kita cintai selama satu dekade ini.

Kita masih meneteskan air mata, setiap kali melihat apa yang waktu perbuat pada penampilan kita yang menua…tanpa kita menjadi bagian dari satu sama lain selama satu dekade lebih.

Kita masih meneteskan air mata, setiap kali mengingat kesempatan yang kita buang karena ego masa muda yang begitu tinggi… kesempatan untuk bahagia, bersama… walau tentu saja pasti ada tantangan karena perbedaan kita.

Kita masih meneteskan air mata penyesalan, atas setiap pedih dan sakit hati yang kita torehkan kepada orang yang paling kita cintai, dan selama sepuluh tahun tak berdaya memperbaikinya.

Kita masih meneteskan air mata mengingat kepedihan saat merindu… harapan yang hilang selama satu dekade

Ya, saat ini kita masih meneteskan air mata…

Tapi ada saatnya, Sayang. Kita harus hapus air mata ini. Kita tidak boleh mengijinkan penyesalan merusak kita dari dalam. Kita tidak boleh terus menerus hidup di masa lalu padahal kita telah saling menemukan…

Ada saatnya kita harus berdiri tegak menyambut masa depan dengan senyum, karena kita pun layak mendapatkannya.

Penyesalan

Penyesalan itu jahat
Ia menghancurkan hati
Meremukkan tulang

Membuatmu berandai-andai
Andai dulu tak begini
Anda dulu melakukan ini

Penyesalan itu jahat
Membuatmu membenci diri
Membuatmu merasa tak berdaya

Tak bisa kembali untuk memperbaiki
Tak bisa mengulang apa yang lewat
Tak bisa mencegah apa yang telah terjadi

Penyesalan itu jahat
Kalau kau menenggelamkan diri di dalamnya
Berkubang dan memutuskan tinggal

Ya, penyesalan itu jahat,
Kalau kau memutuskan menjadikannya bawaanmu
Sepanjang sisa umurmu

Interlude: Hai Dindaku

His….

Ini adalah tahun ke dua semenjak kita berpisah..
Ada rasa yang menggila di kepalaku..
Ada logika yang berontak di hatiku ..
Ada begitu keinginan menggelora dalam jiwa raga ini..
Yakni memilikimu…

Ku hempaskan bayangmu, namun kembali..
Kupecahkan bagian kenangan kita, namun menyatu kembali..
Menggantikan nafasmu, namun terdengar suaramu kembali..
Memikirkan amarahmu, namun nampak senyummu..
Haruskah ku kembali padamu??

Alam semesta seakan menarikku pada masa lampau..
Pada masa aku dan kau..
Pada hari-hari dimana kita bersama..
Kenangan itu seakan manarikku kembali..
Aku tak mau lari..

Baiklah akan kutemui kau…
Tolong jawab panggilanku…

Aku sudah tiba

His

Hai perempuanku…
Walau banyak yang tak kau lihat setelah kita berpisah..
Biarlah aku saja yang melihat kejam dan kerasnya dunia ini..
Walau banyak yang tak kau alami..
Biarlah aku saja yang mengalami..
Walau mungkin kau berpikir aku tak menujumu, aku berlari tuk melihatmu..
Mungkin kau berpikir aku berpaling,
Sebenarnya aku ingin mendapatkanmu…

Kala itu…

Aku teringat oleh gerakan bibirmu..
Aku suka cerita-ceritamu..
Cerita tentang semua hal..
Tentang kau, aku, dan mereka..
Tentang kekonyolan yang terjadi di bawah matahari ini…
Tentang kebisuan di bawah bulan pun…
Aku suka mendengarkanmu..

Ingatlah di persimpangan itu, kau menjemputku..
Ingatlah kau membuka jalan untuk ku ucapkan cinta padamu..
Ingatlah kau memilihku..
Yaps, begitulah hati mengawali..

Kini..
Aku sudah tiba…
Maka jangan kau usir lagi..
Aku sudah tiba…
Jangan kau hianati hatimu lagi..
Aku sudah tiba..
Jangan kau switch tombol itu lagi, hancurkanlah itu.
Aku sudah tiba..
Maka marilah genggam erat tanganku..
Percaya padaku, walau kelak badai menerpa kita, bersama kita atasi.

Lihat aku

Lihat aku,
Menanti di ujung jalan ini,
Berjalanlah terus,
Tak apa tertatih,
Aku menunggu

Setelah itu,
Kita lanjutkan perjalanan bersama

Lihat aku,
Di batas mimpimu
Bangunlah sekarang,
Tak apa perlahan,
Ada aku

Setelah itu,
Kita bangun mimpi yang sama,

Dalam setiap masalah,
… ada kesempatan
Dalam setiap duka,
… selalu ada penghiburan,

Lihat aku,
Berjalanlah walau tertatih,
Bernafaslah walau terasa sesak,
Bangunlah walau terasa berat,

Dan tibalah padaku…

Bumi itu Bulat, Sayang

Bumi itu bulat, sayang

Kalaupun kau tersasar,

Lihatlah matahari,

Dan kembalilah

—-

Bumi itu bulat, sayang

Kalaupun kau hilang arah,

Rasakan angin bertiup,

Dan kembalilah

—-

Selalu ada pintu hati yang siap terbuka

Selalu ada dua tangan yang terentang

Siap menyambutmu pulang,

—-

Jam pasir itu buktinya,

Kubalik berkali-kali menunggumu pulang,

Akan kumainkan, agar kita tak pernah kehabisan waktu

—-

Bumi itu bulat sayang,

Berjalanlah terus,

Kau akan kembali pulang…

—-

Part 4: Dengar, Akulah yang Salah!

His Story

Hipokampus adalah bagian dari otak yang memiliki peranan penting untuk memproses, menggabungkan, dan menguatkan memori. Semenjak kanak-kanak, sangat mudah bagiku untuk menyerap dan menempatkan diri pada apa yang terjadi. Setelah guru menjelaskan di papan, malamnya atau esoknya bahkan bulan berikutnya masih saja ku ingat. Cukup pejamkan mata, terbukalah gambarannya. Hal tersebut berjalan hingga dewasa bahkan semakin menggila… mencium aroma, hembusan angin, suara, dan sentuhan dapat mengingatkanku akan beberapa kejadian. Menjadikannya gambaran yang lebih detail!

Singkatnya, aku jatuh cinta… Empat tahun lebih berjalan, iring-iringan ingatan tentang kita diminta untuk dihapus begitu saja.

Dia mungkin bisa, tapi aku tidak! Karena kemampuan mengingatku tak mudah hancur begitu saja. Kadang aku berpikir apakah dia tak paham bagaimana jika kemampuan itu tembus pada jantung hatiku, bukan hanya sebatas menyentuh permukaan hati. Bagaimana jika itu menggugah di kedalaman perasaan? Bukan hanya sebatas perasaan. Atau mungkin kutanyakan saja bagaimana jika itu adalah hal yang membuatmu jatuh cinta dan memberikan hatimu ‘tuk orang yang kau sayangi? Apakah bisa dilupakan? Hmmm mungkin lebih baik kamu membunuhku…

Perjalanan cinta kami pada masa itu penuh canda, tawa, liku, haru, bahkan adrenalin. Sebagai pria, tentu harus bisa menempatkan diri mengingat perbedaan usia dan suku. Jadi kucoba memahaminya, mengimbanginya, bahkan melewati dirinya. Hingga tiba di satu titik dimana aku menganggap dia seperti anak remaja yang perlu didengar, dijaga emosinya, dirangkul dan dituntun. Bahkan pernah ku candai bahwa usiaku itu sebenarnya 27 dan kau 23, bahkan kadang seperti anak 16 tahun, begitulah celotehku hahahaha… well enough. Entah dia menganggapku seperti apa. Sinis mungkin.

Yap betul, awal pertemanan kami terjalin pada tahun 2005-2006 menjadi “partner in crime”. Berlanjut pada hubungan yang lebih dalam di tahun-tahun berikutnya. Dasar komitmen kami bangun dan jalani step by step.

Pada awal hubungan itu, akulah yg pertamakali memutuskan sudahi saja, karena logikaku berkata ini tak bisa diteruskan. Namun yang ku temui adalah jawaban iman dan cintanya bahwa untuk melewati banyaknya liku hubungan ini, jika ingin bersama kelak, kita harus punya iman dan cinta yang kuat. Ucapan itu membuatku tergugah dan tersadar!

“Bahkan andai jika aku yang memintamu pergi tolong jangan tinggalkan aku karena mungkin aku sedang emosi saja” begitulah kurang lebih ucapnya. Semenjak itu kami berjanji bahwa aku untukmu begitu pula sebaliknya.

Tahun berlanjut, sampailah pada kesalahan fatalku yang pertama: menelan bulat-bulat sarannya untuk sudahi hubungan kami, “karena hal terbaik bagi kita adalah bubar

Pada masa itu (mungkin aku terlalu polos) menganggap saran dan idenya yang terbaik, dan ternyata setelah dipikir-pikir saran tersebut lahir dari ketakutan dan ketidakberdayaannya. Aku sebagai lelaki harusnya menyadari itu dan tidak bertindak bodoh mengiyakannya. Andai bisa diulang, di titik itulah seharusnya aku mengambil keputusan dan peranan lebih besar. Karena ada beda antara memahaminya dan mengiyakannya. Kejadian ini berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya, yakni, putus-sambung.

Sampailah di awal tahun 2011. Tahun tersebut meninggalkan pilu yang dalam, bahkan mencederai diri kami sendiri. Mencoba menghilangkan perasaan, melupakan janji di awal. Ratusan kali mencoba untuk melupakannya, tapi tidaklah semudah itu. Empat tahun bersama adalah sebuah bagian dalam kehidupan yang tidak mudah terhapus begitu saja. Di tahun ini aku masuk di dunia yang bertolak belakang dengan siapa aku sebenernya… ke arah yang lebih buruk. Boleh dibilang ini adalah usaha ‘tuk melupakannya. Entah aku tidak tahu bagaimana cara dia dapat bangkit dan kembali ceria.

Berlanjut tahun 2012, aku berubah namun tak banyak yang bisa ku lakukan padanya, hanya bisa melihat dari kejauhan sembari mempersiapkan apa yang sepatutnya pria lakukan untuk orang yang dicintainya. Jadi meskipun sudah putus, aku akan datang mempertanyakan kembali cintanya dan membuktikannya kembali, seperti yang sudah-sudah. Itu adalah janjiku, janji seorang pria!

Pada tahun 2013, sampailah pada kesalahan fatalku yang ke 2. Terlalu mudah menyimpulkan seseorang hanya lewat sosmed tanpa konfirmasi padanya. Tapi gimana caranya? Toh dia sekarang nyaman dengan orang lain, begitu mesranya percakapan mereka. “Siapa gw yang andai datang padanya dan menanyakan kembali semua janji kami?? Lagi pula sudah putus kok 2 tahun lalu” begitulah gumamku. Tanpa konfirmasi, tanpa komunikasi, kami saling menyakiti entah langsung atau tidak langsung. Begitu arogannya aku, sangat arogan untuk memutuskan hal yang belum pasti kebenarannya. Pria yang tidak dewasa!

Semenjak itu skenario untuk melupakan dan memutuskan untuk melanjutkan hidup tanpanya tertancap. Tapi kembali, tak mudah melupakannya, bahkan hingga kucoba melupakannya dengan cara keliru, yakni mencoba menggantikannya dengan wanita lain sesuai yang disarankan oleh dia, teman, dan sahabat. Tapi aku tetap tak bisa lupa!

Itulah kesalahan FATALku. Mungkin dia akan membenci aku, atau senang… aku tidak tahu. Yang jelas aku jalani saja hidup apa adanya. Ya apa adanya, bukan seperti aku.

Kesalahan FATAL bagiku mengingkari janjiku padanya. Perasaanku padanya, cintaku padanya…Ya aku salah!

Well mungkin cukup sekian..

Proses pendewasaan ini terlalu mahal. Bahkan sangat mahal. Aku dan kamu adalah produk dari rangkaian keputusan. Berapa harganya? Mahal sekali harga yang harus dibayar..terutama aku!

Untuk menuju kebenaran dan kejujuran tidaklah mudah tapi bukan berarti tidak bisa. Akan selalu ada konsekuensi. Ada yang bilang, jika minta maaf berguna buat apa ada polisi? Tabrak orang, minta maaf, dan lariii aja…Aku siap menanggung semua risiko karena dua keputusan fatal di atas yang sebenernya berawal dari keputusasaan.

Ia yang Super Maha itu sebenarnya menunjukkan jalurnya namun pemikiranku kerap kali berontak. Sang Perencana menarikku kembali, namun aku tak acuh dan lari. Aku sebagai lelaki, bukan karena egoku, hanya bisa berkata.. seolah tak layak untuknya. Andai masih ada kesempatan, aku tak mau mengulangi kesalahan fatal tuk ketiga kalinya